Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Serampang Dua Belas? Jadikan Warisan Dunia!

Medan. Medan itu sudah kasar, serampangan pula. Masih untung banyak masyarakatnya yang bersuara emas dan memenangi kontes-kontes menyanyi nasional. 

Makanya, jan sepele kali ko sama Medan ini, wak.

Medan, begini-begini juga, di dalamnya ditemukan sejuta panorama indah yang menyimpan sejarah masing-masing di baliknya. Medan juga memiliki berbagai kebudayaan dan seni. Tidak hanya itu, dari sudut ke sudut, berjejer sajian kuliner penggugah air liur yang siap dihajar--tapi pastikan kamu membawa dompet yang berisi, kalau bisa tebal sekalian.

Balek kita ke topik.

Medan juga kaya akan etnis. Batak, misalnya, yang selalu diidentikkan dengan Medan. Orang Jawa pun bertebaran di berbagai daerah Kota Medan, begitu pula mereka yang bersuku Minangkabau atau Nias, apalagi Tionghoa. Sementara itu, penguasa daerah Kampung Keling justru orang-orang bermata belo, berkulit eksotis, dan berhidung yang mancungnya membuat terpana. Namun, nyatanya, etnis aslinya adalah Melayu. 

Salah satu ikon kota Medan, yang biasanya menjadi tempat wisata wajib, adalah Istana Maimun. Coraknya? Jelas, Melayu. Tepatnya, Melayu Deli.

Hasil gambar untuk maimun

Yang bercorak Melayu tidak hanya bangunan atau benda. Yang bukan benda pun, ada. Ronggeng Melayu, contohnya. Ronggeng sendiri disebut-sebut sebagai sumber penciptaan karya baru. Oleh karena itu, tidak heran Ronggeng Melayu telah tumbuh dan menjadi akar bagi tari yang sudah berkembang pesat, yaitu Tari Serampang Dua Belas.

Tari Serampang Dua Belas, salah satu tarian kebanggaan Sumatra Utara.

Pada awalnya, Tari Serampang Dua Belas dinamai sesuai nama lagu pengiringnya, Pulau Sari. Namun, gerak tari yang dinamis rasanya tidak cocok dengan namanya yang anggun, kan? Tari Pulau Sari pun terlahir kembali sebagai Tari Serampang Dua Belas. "Dua Belas" menjadikan Serampang Dua Belas sebagai tari dengan tempo tercepat di antara Serampang-Serampang yang lain.

Serampang Dua Bilas tidak pula dinamakan Serampang Dua Belas bila ragamnya tidak dua belas jumlahnya. Ragam yang dimaksud di sini berhubungan dengan makna tarian tersebut, yakni kisah pemuda-pemudi yang berjumpa, hingga pada akhirnya dimabuk cinta. /ea

Lebih spesifiknya, yaitu:
  1. Pertemuan pertama
  2. Timbul rasa cinta
  3. Perjuangan memendamnya
  4. Menggila; mabuk kepayang oleh cinta
  5. Mulai memberi "kode"
  6. Kode-kodean balik
  7. Saling menduga
  8. Belum percaya sepenuhnya
  9. Cinta dijawab dengan jelas
  10. Pinang-meminang
  11. Mengantar pengantin
  12. Pertemuan kasih
Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata Serampang Dua Belas tidak kalah dari berbagai modern dance. Toh yang paling disenangi saat ini, khususnya oleh para remaja, adalah hal-hal yang berbau romansa. Oleh sebab itu, tidak pantas bila tarian ini dicap kuno sementang merupakan tari tradisional, mengingat kisah cinta selalu mewarnai setiap era kehidupan. Apalagi, gerak tarinya sangat dinamis dan cerdas. 

Serampang Dua Belas layak untuk diabadikan.

Apalagi, fungsi asli Tari Serampang Dua Belas adalah sebagai tari pergaulan di kalangan muda-mudi Melayu. Bahkan saat ini, penarinya merupakan sepasang perempuan dan laki-laki, sangat sesuai dengan filosofinya.

Hasil gambar untuk serampang dua belas

Meski demikian, tarian tersebut tetap menjaga sopan santun dan menunjukkan etika menghargai wanita. Pasangan penari tidak saling menyentuh sekalipun acap kali berdekatan dalam lakon sajian tarian. 

.

.

Wow.

.

.

Begitulah, kon-kawan.

Tarian elok nan cemerlang ini memberi tahu pemuda-pemudi bahwa saling menyuka adalah hal yang wajar, tetapi attitude adalah hal yang harus dijunjung tinggi. Kalau tidak neko-neko dan sabar menapaki tahap demi tahap, niscaya pucuk dicinta ulam pun tiba. (aamiin)

Serampang Dua Belas sudah pantas dijadikan warisan dunia oleh UNESCO--terbukti kalangan Anak Medan se-Dunia sejak awal 2016 telah sepakat mendorong pemerintah, khususnya daerah Sumatra Utara, agar harapan tersebut terwujud. Serampang Dua Belas telah melambangkan mahakarya kreativitas dan kecerdasan manusia, tapi tidak lupa menyampaikan pesan untuk tetap berpegang teguh pada tradisi. Tradisi, tentu tradisi yang menjunjung tinggi norma-norma demi kebaikan kehidupan orang itu sendiri.

Serampang Dua Belas lebih dari sekadar tarian, tidak diragukan lagi. Tinggal bagaimana sikap kita. Apakah love dan melestarikannya, atau dibiarkan lost seiring waktu berjalan.

ditulis oleh Zahra Annisa Fitri
pada 5 Oktober 2016, 23:30
untuk blog competition Love or Lost: Warisan Dunia Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...