Langsung ke konten utama

kok

Serampang Dua Belas? Jadikan Warisan Dunia!

Medan. Medan itu sudah kasar, serampangan pula. Masih untung banyak masyarakatnya yang bersuara emas dan memenangi kontes-kontes menyanyi nasional. 

Makanya, jan sepele kali ko sama Medan ini, wak.

Medan, begini-begini juga, di dalamnya ditemukan sejuta panorama indah yang menyimpan sejarah masing-masing di baliknya. Medan juga memiliki berbagai kebudayaan dan seni. Tidak hanya itu, dari sudut ke sudut, berjejer sajian kuliner penggugah air liur yang siap dihajar--tapi pastikan kamu membawa dompet yang berisi, kalau bisa tebal sekalian.

Balek kita ke topik.

Medan juga kaya akan etnis. Batak, misalnya, yang selalu diidentikkan dengan Medan. Orang Jawa pun bertebaran di berbagai daerah Kota Medan, begitu pula mereka yang bersuku Minangkabau atau Nias, apalagi Tionghoa. Sementara itu, penguasa daerah Kampung Keling justru orang-orang bermata belo, berkulit eksotis, dan berhidung yang mancungnya membuat terpana. Namun, nyatanya, etnis aslinya adalah Melayu. 

Salah satu ikon kota Medan, yang biasanya menjadi tempat wisata wajib, adalah Istana Maimun. Coraknya? Jelas, Melayu. Tepatnya, Melayu Deli.

Hasil gambar untuk maimun

Yang bercorak Melayu tidak hanya bangunan atau benda. Yang bukan benda pun, ada. Ronggeng Melayu, contohnya. Ronggeng sendiri disebut-sebut sebagai sumber penciptaan karya baru. Oleh karena itu, tidak heran Ronggeng Melayu telah tumbuh dan menjadi akar bagi tari yang sudah berkembang pesat, yaitu Tari Serampang Dua Belas.

Tari Serampang Dua Belas, salah satu tarian kebanggaan Sumatra Utara.

Pada awalnya, Tari Serampang Dua Belas dinamai sesuai nama lagu pengiringnya, Pulau Sari. Namun, gerak tari yang dinamis rasanya tidak cocok dengan namanya yang anggun, kan? Tari Pulau Sari pun terlahir kembali sebagai Tari Serampang Dua Belas. "Dua Belas" menjadikan Serampang Dua Belas sebagai tari dengan tempo tercepat di antara Serampang-Serampang yang lain.

Serampang Dua Bilas tidak pula dinamakan Serampang Dua Belas bila ragamnya tidak dua belas jumlahnya. Ragam yang dimaksud di sini berhubungan dengan makna tarian tersebut, yakni kisah pemuda-pemudi yang berjumpa, hingga pada akhirnya dimabuk cinta. /ea

Lebih spesifiknya, yaitu:
  1. Pertemuan pertama
  2. Timbul rasa cinta
  3. Perjuangan memendamnya
  4. Menggila; mabuk kepayang oleh cinta
  5. Mulai memberi "kode"
  6. Kode-kodean balik
  7. Saling menduga
  8. Belum percaya sepenuhnya
  9. Cinta dijawab dengan jelas
  10. Pinang-meminang
  11. Mengantar pengantin
  12. Pertemuan kasih
Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata Serampang Dua Belas tidak kalah dari berbagai modern dance. Toh yang paling disenangi saat ini, khususnya oleh para remaja, adalah hal-hal yang berbau romansa. Oleh sebab itu, tidak pantas bila tarian ini dicap kuno sementang merupakan tari tradisional, mengingat kisah cinta selalu mewarnai setiap era kehidupan. Apalagi, gerak tarinya sangat dinamis dan cerdas. 

Serampang Dua Belas layak untuk diabadikan.

Apalagi, fungsi asli Tari Serampang Dua Belas adalah sebagai tari pergaulan di kalangan muda-mudi Melayu. Bahkan saat ini, penarinya merupakan sepasang perempuan dan laki-laki, sangat sesuai dengan filosofinya.

Hasil gambar untuk serampang dua belas

Meski demikian, tarian tersebut tetap menjaga sopan santun dan menunjukkan etika menghargai wanita. Pasangan penari tidak saling menyentuh sekalipun acap kali berdekatan dalam lakon sajian tarian. 

.

.

Wow.

.

.

Begitulah, kon-kawan.

Tarian elok nan cemerlang ini memberi tahu pemuda-pemudi bahwa saling menyuka adalah hal yang wajar, tetapi attitude adalah hal yang harus dijunjung tinggi. Kalau tidak neko-neko dan sabar menapaki tahap demi tahap, niscaya pucuk dicinta ulam pun tiba. (aamiin)

Serampang Dua Belas sudah pantas dijadikan warisan dunia oleh UNESCO--terbukti kalangan Anak Medan se-Dunia sejak awal 2016 telah sepakat mendorong pemerintah, khususnya daerah Sumatra Utara, agar harapan tersebut terwujud. Serampang Dua Belas telah melambangkan mahakarya kreativitas dan kecerdasan manusia, tapi tidak lupa menyampaikan pesan untuk tetap berpegang teguh pada tradisi. Tradisi, tentu tradisi yang menjunjung tinggi norma-norma demi kebaikan kehidupan orang itu sendiri.

Serampang Dua Belas lebih dari sekadar tarian, tidak diragukan lagi. Tinggal bagaimana sikap kita. Apakah love dan melestarikannya, atau dibiarkan lost seiring waktu berjalan.

ditulis oleh Zahra Annisa Fitri
pada 5 Oktober 2016, 23:30
untuk blog competition Love or Lost: Warisan Dunia Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...