Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Goose House - Sing (Lirik + Terjemahan)


SING
Bernyanyi


Donna ni kangaetatte
Kotae ga detekuru wakede mo naishi
Ao ni tsutsumareta asa wa
Kinou no boku ni doko ka nite ita
- Berkali-kali dipikirkan pun
- Jawaban yang datang pun tidak penting
- Pagi yang dibalut biru (kesedihan)
- Entah mengapa mirip denganku yang kemarin

Nani ka tokubetsu na koto o
Mainichi sagasu no wa tsukarechaushi
Dakara tte nani mo nai no wa
Iya nan dakara wagamama da yo ne
- Karena aku mulai lelah setiap hari mencari
- Sesuatu yang dianggap penting
- Karena aku menganggapnya tidak berarti
- Jadi aku tidak suka--tampak egois, kan?

Yononaka wa afureteru
Samishii to ka ureshii to ka
Soko ni iro ga tsuitara
Nani ka kawaru ka na
- Dunia ini telah penuh
- Oleh rasa sepi dan rasa bahagia
- Bila di sana muncul sebuah warna
- Akankah ada yang berubah?

Bokura wa mada fukanzende
Morokute chippokeda otoda keredo
Kono uta wa todoku ka na
Kono sora no katasumi de let’s sing a song
- Kita masih belum sempurna
- Tapi, meski terdengar kecil dan lemah
- Akankah lagu ini mencapaimu?
- Mari menyanyikan sebuah lagu di ujung langit

Taisetsu na mono hodo
Me ni wa utsuranai ika raji waruda ne
Iki kau hito no mannaka de
Kokoro ga yurayura shite tachidomatta
- Yang kumaksud sesuatu yang penting
- Tidak harus tampak di mata, tetapi memiliki sebuah arti
- Orang-orang yang datang dan pergi
- Membuat hatiku terombang-ambing dan akhirnya terpaku

Are mo kore mo sore mo dore mo
Hoshii mono wa zenbu tenihairu jidai mitai
Kitaishi teta mirai wa kore nan desu ka
- Yang itu, yang ini, yang itu, yang mana saja
- Semua angan-angan teraih pada suatu masa
- Masa seperti itukah masa depan harapan kita?

Dattara itai omoi mo shinai you na
Kanashikute mo namida ga nagarenai you na
Mahou o tsukutte kudasai
- Jika begitu, kuingin rasa sakitku sirna
- Kesedihan dan air mata tidak lagi mengalir
- Kumohon datanglah keajaiban

Are kara rokujuu yokka ga tatte
Kankyou mo shinkyou mo kawatte
Boku wa boku nari ni seichou dekitemasu ka
- Semenjak itu, 64 hari pun berlalu
- Orang-orang sekitar, bahkan diriku sendiri berubah
- Bisakah aku beranjak dewasa seperti itu?

Demo kanashimi kanjirareru kara
Kimi to shiawase kanjirarerun datte
Kidzuita kara kono mama de iin desu
- Tapi karena aku merasakan kesedihan
- Maka aku pergi denganmu dan merasakan kebahagiaan
- Sehingga aku sadar begini saja tidak mengapa

Ameagari mita mizutamari no niji
Chippoke na kuse ni chikaradzuyoku ita
- Ada pelangi pada genangan air setelah hujan
- Ada kekuatan dalam keseharian yang rapuh

Bokura wa kitto sabishigari de
Hitori nanda to kanchigaishichau deshou
Itsumo dare ka motometeru
Kono sora no katasumi de let’s sing a song
- Kita yang sedang kesepian pasti
- Menyalahkan kesendirian yang menghadang, kan?
- Aku selalu meminta kepada seseorang
- "Mari menyanyikan sebuah lagu di ujung langit"

Bokura wa mada fukanzende
Morokute chippokeda otoda keredo
Todokeru yo kono uta o
Kono sora ni hibiite yo let’s sing a song
- Kita masih belum sempurna
- Tapi, meski terdengar kecil dan lemah
- Pasti lagu ini mencapaimu
- Mari menyanyikan sebuah lagu hingga bergema di langit

Boku no koe mo kimi no koe mo
Kasanatte yatto hitotsu no uta ni naru
Todokeyou sono omoi o
Kono sora ni hibikasete let’s sing a song
- Suaraku dan juga suaramu
- Tumpang tindih menjadi sebuah lagu yang utuh
- Biarkan perasaan ini mencapaimu
- Mari menyanyikan sebuah lagu di ujung langit

Ano niji o watatteku yo let’s sing a song
- Mari menyanyikan sebuah lagu hingga pelangi itu terseberangi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...