Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

[Cerpen] Ceri Merah


Hujan, lagi, dan payung tertinggal di garasi rumah, lagi. Langkahku menimbulkan cipratan air, lagi dan lagi. Bahkan saat kuputuskan berhenti sejenak di bawah pohon—bukan bermaksud berteduh, hanya terengah-engah saja—tidak ada lagi buah berwarna merah yang memikat hati seperti biasa.

Bentuknya mungil, berayun-ayun di ujung ranting, dan rasanya manis—kecuali kalau kamu sedang bernasib buruk. Biasanya mudah sekali menemukannya, seperti mencari semut di sekitar gula. Akan tetapi, kelihatannya sudah tiba masa untuk bermalas-malasan?

Aku mendongakkan kepala, berharap bisa melihat lebih jauh ke sela-sela dedaunan. Sesekali mengaduh juga bila kacamataku menjadi tempat mendarat tetesan air hujan. Namun, ke mana pun mencari, warna merah menggoda belum juga didapati mata.

Mungkin, semuanya sudah berubah, hingga pohon ceri pun tega membuatku kecewa seperti ini.

Dalam memoriku, setiap kali aku berhenti di sini, aku akan tergelak. Ceri merah yang mungil itu menjadi sebab pertengkaranku denganmu—kekanak-kanakan sekali, padahal sudah memakai seragam putih abu-abu. Sementang tubuhmu jauh lebih menjulang dibandingkan aku, bibirmu selalu mengolok-olokku, mencelaku yang tidak bisa mengambil buah ceri sendiri.

Dasar kurang ajar. Kamu sudah tahu, tapi seolah melupakan aku dan sabuk merahku.

Ah, lagi-lagi merah.

Warna merah kian membayang-bayangi pikiranku, tapi mataku tidak kunjung menemukan ceri merah. Semuanya hijau; semuanya belum matang; semuanya masih menunggu waktu.

Kalau aku katakan begini, mungkin kamu akan bertingkah seolah-olah ingin muntah. Akan tetapi, untuk 20 detik saja,  aku ingin menatap irismu dan berbicara dengan serius. 

“Maukah kamu menghampiriku sekarang seraya membawa payung, lalu menemaniku di sini menanti buah ceri yang akan memerah ini?”

Jika ya, aku akan kembali menghiasi lembaran hariku dengan warna-warna yang cerah—kamu boleh meminta bantuanku untuk mengisi lembaran harimu juga. Jika tidak, aku akan mengubah pertanyaannya. Jadi, dengarkan baik-baik. 

“Maukah kamu menghampiriku satu dekade lagi, meraih jemari manisku, lalu menyematkan cincin platinum berdiameter sama seperti buah ceri yang akan memerah ini?”

Sambil merindukan sosokmu yang selalu tertawa di dalam mimpiku, mataku mencari ceri merah sekali lagi, kemudian kembali menerobos hujan sebelum senja menjelang.

TAMAT


Ditulis pada tanggal 28 September 2016
oleh Zahra Annisa Fitri (Miichan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...