Langsung ke konten utama

kok

Perbedaan Antara Indonesia dan Korea

"Yoo~ Miichan comeback again!" ~Menari hula-hula

Sebenarnya Miichan masih ingin menulis tentang budaya Jepang, tetapi setelah mendengar opini teman Miichan supaya jangan "Jepang-Jepang melulu,", maka Miichan ingin menyelipkan tentang Korea di antara artikel-artikel yang lain :D

Kali ini Miichan membahas tentang perbedaan antara Indonesia dan Korea. Jangan dianggap serius ya, ini hanya pendapat dan sepengetahuan Miichan saja. Toh, Miichan juga belum pernah ke Korea xD Dan lagi, Miichan di sini bukan mau merendahkan Indonesia ataupun Korea, ya.

Check this out!



  • Dari segi agama dan keyakinan
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya diwajibkan untuk memiliki keyakinan / agama. Terlepas dari agama apapun, baik Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, atau Kong Hu Chu, yang terpenting memilikinya. Dan memang tak ada yang lebih hebat selain 'memiliki Tuhan' untuk melalui kehidupan ini. Berbeda dengan Korea yang mayoritas Atheis, sehingga wajar saja banyak terjadi kasus bunuh diri karena sangat stress atau frustasi dan tidak tahu harus ke mana.
  • Dari segi budaya
Ini sudah dapat dipastikan, jelas saja Indonesia lebih beragam budayanya. Makanya, Indonesia lebih toleran terhadap perbedaan dibandingkan Korea. Soalnya di Korea tampaknya hanya ada satu rumpun dan menjadikan mereka kurang ngeh sama perbedaan. Bahkan udah jadi rahasia umum, kalau bule lebih mudah mencari tempat sewa di Korea dibanding orang Asia.
  • Dari segi penghargaan terhadap budaya
Indonesia memang menang dalam ragam budaya, akan tetapi Korea lebih serius dalam menghargai budayanya. Bagi mereka, tidak ada kata 'ketinggalan zaman' untuk mempelajari budaya sendiri (bandingkan dengan Indonesia yang mayoritas lebih suka mempelajari budaya asing). Selain itu, Miichan pernah dengar kalau artis-artis terkenal dari Korea juga membawa-bawa budaya Korea sebagai ajang promosi, sehingga budayanya sangat sukses untuk di'jual' keluar.
  • Dari segi profesionalitas artis
Dapat dipastikan kalau Korea lebih unggul dalam hal ini. Bukan berarti di Indonesia tidak ada artis yang profesional ya. Gampangnya saja kita lihat boyband. Kalau di sana, sebelum debut mereka dilatih terlebih dahulu. Katanya sih kalau mau jadi artis terkenal di Korea, sama susahnya dengan masuk ke universitas! Terkadang miris juga melihat 'beberapa' artis Indonesia yang belum terlalu matang sudah langsung terjun ke publik.
  • Dari segi penghargaan terhadap artis
Meskipun kebanyakan artis di Korea lebih profesional, tetapi masyarakat Indonesia lebih menghargai artisnya dibandingkan masyarakat Korea terhadap artis Korea. Indonesia tidak memaksa artis untuk menjadi sempurna. Beda sama Korea yang kebanyakan menginginkan artis yang sempurna. Harus tetap cantik dan ganteng, tidak boleh terlihat tua.. Artis A dan artis B harus menikah karena cocok, dan banyak lagi pemaksaan. Memang sih, untuk menjadi artis diusahakan untuk tidak mendapat skandal, tapi kalau sampai begitu apa tidak keterlaluan juga? Toh artis kan hanya manusia :D
  • Dari segi ekonomi
Miris juga sih, tapi ini sudah jelas Korea menang. Mereka hanya butuh 9 bulan untuk lepas dari krisis moneter, sementara kita...
  • Dari segi kecantikan
Sebenarnya ini tidak cocok dimasukkan karena cantik itu relatif, tapi kalau misalnya kita lihat-lihat, di sana operasi plastik sudah dianggap hal yang wajar. Bahkan, harganya terjangkau oleh anak sekolah. Banyak pula orang tua yang mengizinkan anak-anaknya untuk operasi plastik demi menunjang kecantikan mereka. Maka bersyukurlah menjadi orang Indonesia yang kebanyakan bersyukur untuk wajah seperti apa yang telah dia dapat dari Tuhan, tanpa diubah-ubah lagi.

Kira-kira sih, begitu, perbedaannya. Tetapi, Miichan tidak bilang ini 100% akurat lho, ya! Kalau menurut kalian, bagaimana?

Source here

Komentar

  1. Miichan, aku harus jujur ya...
    Dengan mengunjungi blogmu rasanya sangat menyenangkan karena mendapatkan banyak informasi.
    Sering sering ON yang Miichan, maaksih banyak atas informasinya ^0^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ya, Aisha. Miichan jadi terhura :') Dan Miichan mohon maaf tidak bisa ON sesering mungkin karena aktivitas Miichan yang semakin padat setelah liburan selesai ini (TT^TT) Mohon maaf, ya, Aisha :)

      Hapus
    2. Iya Miichan, sama-sama ^0^

      Hapus
  2. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, ya ^^

    BalasHapus
  3. Oya..namabahin nih..co korea itu kalo cinta ga lebay..garing tapi kerasa
    Humm ktnya co korea itu pelit..tergantung..kl di awal kita realistis dia dengan senang hati ngeluarin pundi2 nya k kantong kita hehe. Intinya jgn matre abis.
    Kalo kencan ga pk jemput2 an..lgs tkp.
    Nelp singkat padat mantap hehe
    Walopun bajingan dia ngerti tanggung jawab terhadap keluarga. Kl co indo dah cere yuk bye2..
    Ini pengalaman yg udah aku liat sendiri ya. Semoga bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, Miichan baru tahu > < Terima kasih tambahannya, Regitanovia ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...