Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Sekilas dan Ciri-Ciri Umum tentang Bahasa Jepang

Bahasa Jepang (日本語 : Nihongo) merupakan bahasa resmi di Jepang dengan jumlah penutur ± 127.000.000 jiwa.

Bahasa Jepang tidak hanya digunakan di Jepang saja. Sejumlah penduduk negara yang pernah ditaklukkan Jepang juga menggunakannya, seperti Korea dan Republik Cina. Bahasa Jepang juga dapat didengarkan di Amerika Serikat (California dan Hawaii) dan Brasil akibat bermigrasinya orang Jepang ke daerah sana. Namun, keturunan mereka yang disebut ‘generasi ke dua’ (二世 : Nisei), tidak lagi fasih dalam bahasa ini.

Bahasa Jepang terbagi dalam dua bentuk, yaitu penuturan standar (標準語 : Hyoujungo) dan penuturan umum (共通語 : Kyoutsugo). Hyoujungo adalah bentuk yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan segala perhubungan resmi.

TULISAN BAHASA JEPANG
Tulisan bahasa Jepang pada awalnya berasal dari tulisan bahasa China (漢字 : Kanji) yang diperkenalkan pada abad 4 M. Sebelum masa ini, orang Jepang tidak mempunyai sistem penulisan sendiri.



Tulisan Jepang terbagi menjadi 3 aksara, yaitu :
·          Aksara kanji  (漢字) yang berasal dari China
Aksara yang menunjukkan arti dan juga bunyinya.
Contoh : 私 (watashi) / saya , 日(nichi) / hari , 今 (ima) / sekarang
·         Aksara Hiragana (ひらがな)
Aksara yang dipakai untuk menuliskan nama-nama dan kata-kata asli bahasa Jepang yang tidak ada di aksara kanji, serta untuk menuliskan partikel
Contoh : すみません (sumimasen) / permisi , いつも (itsumo) / selalu , はじめまし て (hajimemashite) / perkenalkan
·         Aksara Katakana (カタカナ)
Aksara yang digunakan untuk menuliskan nama-nama dan kata-kata yang diambil dari bahasa asing atau kosakata serapan.
Selain itu digunakan pula untuk nama orang asing dan nama negara, kecuali Cina dan Korea.
Contoh : マイク(Maiku) / Mike  , インドネシア (Indoneshia) / Indonesia ,  アメリカ (Amerika) Amerika

Aksara hiragana dan katakana berunsur pada tulisan kanji dan dikembangkan pada abad 8 M oleh rohaniawan Buddha untuk membantu melafazkan karakter-karakter China.
Aksara hiragana dan katakana biasa disebut kana dan ke duanya dipengaruhi oleh fonetik bahasa Sansekerta. Hal ini masih bisa dilihat dalam urutan aksara Kana. Selain itu, ada pula sistem alih aksara ke huruf alfabetis yang kita gunakan yang disebut romaji.

Bahasa Jepang yang kita kenal saat ini ditulis dengan menggunakan kombinasi antara aksara kanji, hiragana, dan katakana.

TANDA BACA
Dalam kalimat bahasa Jepang, tidak ada spasi yang memisahkan antara kata dan kalimat sehingga semuanya tersambung. Walaupun bukan tanda baca yang baku, terkadang juga dijumpai penggunaan tanda tanya atau tanda seru di akhir kalimat.

Tanda baca yang dikenal dalam bahasa Jepang ada dua, yaitu  。 (句点 : koten) dan 、(読点 : touten). Koten berfungsi sama seperti titik, sementara touten berfungsi sama seperti koma.

TATA BAHASA
Dalam bahasa Jepang, jenis kata terdiri dari kata kerja, kata sifat, kata benda, kata keterangan, kata penghubung, dan partikel. Untuk urutannya, predikat selalu terletak di akhir kalimat.

Contohnya :
  Kochira wa Nakagawa-san desu
こちらは中川さんです
Ini adalah Nakagawa-san
         
Mainichi shinbun o yomimasu
毎日新聞を読みます
Setiap hari membaca koran

Selain itu, kata yang diterangkan selalu terletak di belakang kata yang menerangkan.
Contohnya :
Aoi sora ga sugoi desu yo
青い空がすごいですよ
Langit biru yang indah ya (aoi : biru, sora : langit)

Sono shiroi neko wa dare no desu ka?
その白い猫はだれのですか?
Kucing putih itu milik siapa? (sono : itu, shiroi : putih, neko : kucing)

Kata benda, kata kerja, dan kata sifat dalam Bahasa Jepang berfungsi sebagai predikat. Perdikat dapat menunjukkan positif / negatif dan non-waktu lampau / waktu lampau.

Kata sifat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kata sifat-i dan kata sifat-na. Kata sifat-i adalah semua kata sifat berakhiran huruf i atau yang dibaca i. Sementara kata sifat-na adalah semua kata sifat yang berakhiran selain i atau yang tidak dibaca i.

Contohnya :
Kata Sifat-i
Kata Sifat-na
広い
Hiroi
Luas
静か
Shizuka
Sepi
寒い
Samui
Dingin
にぎやか
Nigiyaka
Ramai
厚い
Atsui
Panas
きれい
Kirei (dibaca : Kiree)
Cantik
おいしい
Oishii
Lezat
有名
Yuumei (dibaca : Yuumee)
Terkenal
かわいい
Kawaii
Imut
元気
Genki
Sehat

Sementara partikel digunakan di belakang kata atau kalimat. Partikel menunukkan hubungan antara kata dengan kata dalam kalimat dan maksud si pembicara. Selain itu, juga berfungsi menambahkan berbagai arti. Contoh beberapa partikel :
    (は/ha) >> “wa”
(へ/he) >> “e”
(を/wo) >> “o”
(の/no) >> “no”
(に/ni) >> “ni”

Kata-kata dan ungkapan yang bisa diketahui dari konteks kalimat juga biasanya dihilangkan. Subjek dan objek pada kalimat juga biasanya dihilangkan. Contohnya :

(私は)君が大好きだ
(Watashi wa) kimi ga daisuki da
Aku suka padamu – subjek “watashi” yang berarti “saya” biasanya dihilangkan

(君は)暇なとき、なにをしますか?
Kimi wa hima na toki, nani o shimasu ka?
Apa yang kamu lakukan di waktu luang? – subjek “kimi” yang berarti “kamu” biasanya dihilangkan

KESOPANAN
Biasanya untuk menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya, seperti kepada menteri atau direktur, dipakai Bahasa Jepang sopan yang disebut teinigo / 低に語. Untuk menyebut nama menteri, biasanya diakhiri partikel –sama atau –sangi.

Contohnya :
Menteri Itano
板のー参議


Untuk berkenalan, kita harus menggunakan bentuk bahasa sopan. Tetapi kita boleh menggunakan bahasa umum kalau sudah akrab.

Sumber : Alan Katsudou, Jurus Kilat Ngomong Bahasa Jepang untuk pemula, Laskar Aksara

Note :
Mohon maaf bila post kali ini tulisannya kurang rapi, karena pada saat membuatnya, Miichan langsung meng-copy paste ini dari Microsoft Word (sebelumnya Miichan tulis di situ). Saat mengeditnyapun berlangsung sedikit sulit karena laptop Miichan telah panas dan internetnya agak cukup lambat.

Sekian, semoga bermanfaat dan berkenan untuk meninggalkan komentar ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...