Langsung ke konten utama

kok

Shiroi Chou (白い蝶) / Kisah Kupu-Kupu Putih

Horaaa~
Ada yang tau Kisah Kupu-Kupu Putih? Kisah ini merupakan sebuah cerita rakyat dari Jepang. Kisah ini menceritakan tentang kesetiaan dan ketulusan sebuah perasaan yang disebut 'cinta'. Check this out minna-san!!
***
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pria yang telah tidak berusia muda lagi bernama Takahama. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di belakang komplek pemakaman Kuil Sozanji. Ia adalah seseorang yang ramah, baik hati, pekerja keras, dan dipandang baik oleh masyarakat sekitar.

Takahama meskipun sudah tua, namun masih tersirat ketampanannya. Ia juga sangat pandai, tapi ia memilih untuk tinggal di rumah kecilnya untuk mengurus pemakaman di desa. Padahal, ia bisa menjadi apa saja yang ia mau yang lebih baik daripada mengurus pemakaman sampai usianya senja seperti ini.

Namun, meski ia dianggap baik oleh masyarakat sekitar, ia juga dianggap gila oleh mereka. Semata-mata karena ia sampai sekarang seperti tidak memiliki hasrat kepada wanita. Ia belum menikah dan tidak memiliki seseorang yang kelihatannya disukai. Padahal, ia memiliki kepandaian dan tampan seperti itu..

Pada suatu hari di musim panas, Takahama jatuh sakit. Ia terkena sakit yang parah sampai-sampai tak bisa bangkit dari kasurnya. Ia pun meminta adik perempuannya untuk datang mengurusnya. Maka, salah satu warga desa yang sering menjenguknya pergi memanggil adik perempuannya yang tinggal di desa yang cukup jauh dari tempat tinggal Takahama.

Adik perempuannya pun datang bersama anaknya (keponakan Takahama). Mereka pun mengurus dan menghibur Takahama di saat-saat terakhir. Pada saat mereka menghibur Takahama, datanglah seekor kupu-kupu putih. Karena dirasa mengganggu, maka kupu-kupu itu pun diusir dengan kipas. Namun, seolah enggan meninggalkan Takahama, meskipun telah diusir sampai 3 kali dengan kipas, kupu-kupu itu tetap tidak meninggalkan Takahama.

Sampai akhirnya, Takahama dijemput oleh ajalnya. Setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir, kupu-kupu itu pergi menjauh. Khawatir akan pertanda buruk, maka sang keponakan pun mengejar kupu-kupu yang pergi itu. Ia mengejarnya sampai keluar pekarangab, kemudian memasuki area pemakaman dan hilang di atas sebuah batu nisan.

Keponakan Takahama pun memeriksa nisan tersebut, dan mendapati nisan tersebut adalah milik seorang gadis bernama Akiko yang berusia 18 tahun. Nisan itu tampaknya telah berdiri selama 50 tahun lebih. Tapi di sekelilingnya terhiaskan bunga-bunga yang seperti baru saja diletakkan akhir-akhir ini.

Sang keponakan pun bertanya kepada Ibunya akan hal itu setelah kembali dari area pemakaman.
"Akiko?" tanya Ibunya. "Dulu pamanmu bertemu dengan gadis yang sangat cantik bernama Akiko. Mereka berdua saling jatuh hati dan bertunangan. Mereka berdua memiliki masa depan yang menjanjikan karena sama-sama pandai. Namun, Akiko meninggal karena sakit menjelang acara pernikahan mereka. Takahama pun sangat sedih karena itu,"

"Pamanmu pun bersumpah untuk tidak menikah dan tinggal di dekat kuburannya karena semasa Akiko hidup, paman pernah berjanji untuk menjadi suami yang baik. Tahun-tahun berikutnya pun, pamanmu tetap memegang teguh sumpah itu dan menyimpan kenangan orang satu-satunya yang ia sukai. Setiap hari ia selalu pergi ke kuburan, baik semilir angin musim panas maupun tebalnya salju musim dingin. Ia berdoa untuk kebahagiannya di sana, merawat kuburannya, dan meletakkan bunga di sana"

Hingga pada saat Takahama sakit, maka ia tidak bisa menjenguk Akiko. Gantianlah Akikon dengan jiwanya dalam wujud kupu-kupu putih mengunjungi Takahama sampai saat terakhirnya...
***
Cinta sejati antara Takahama sama Akiko, bahkab setelah ajal menjemput tidak dapat dipisahkan :') Bagaimana menurutmu? Leave the comment, arigatou!!!

Sumber:
willyyanto.wordpress.com
Japanese Sensei - facebook.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...