Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

I'll Never Be an Angel

When you don’t like someone, everything they do starts rubbing you the wrong way. My significant other once told me that, and man, it hits home. Recently, someone I don’t really vibe with started crying, and I knew it, but I just didn’t want to care. Part of me, a tiny, petty voice, was like, “Ugh, are you just looking for attention?” Meanwhile, the peer counselor side of me jumped in and said, “Seriously? You call yourself a peer counselor, but you can’t even be empathetic right now?” 

Cue the internal conflict.

I’m supposed to be the peer counselor—basically a volunteer “angel” for people. But here I am, feeling more like I’ve got a devil on my shoulder. I just didn’t want to ask what was wrong. I didn’t want to listen if they reached out. They’re not my client; I’m not responsible for them. But is that evil, or is it just being human? That’s the question bouncing around in my head.

And then, because the universe has a wicked sense of humor, they reached out to me. I felt cornered. And there I was——comforted them over text. No “I’m here for you” vibes, just repeating what they said, validating their feelings with a couple of empathetic emojis. But deep down, I didn’t mean it.

Now, I feel bad. Bad for treating them this way, bad for feeling like this at all. It’s like two opposing forces are constantly pulling at me. On one hand, I want to set boundaries; on the other, I feel like I shouldn’t, because they don't always do something wrong. It’s just me, seeing them through a negative lens because I don’t really like them.

And here I am, with no clue how to wrap this up. I guess I’m just... sorry. Sorry for them, sorry for myself, and sorry for this messy, tangled web of feelings.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...