Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

When People Still Laugh When I Can't Even Smile

I visited a colleague in the hospital today. She’s just a few years older than me—still young—but diagnosed with cancer. I can’t imagine how I’d feel in her place, like my world had fallen apart. 

I went with an old friend, and we caught up, laughing both before and after the visit. But later, as I sat at my desk, I started to wonder: is it really okay to enjoy ourselves like that while my colleague is suffering? She smiled, sure, but there’s no way she’s truly "okay" with what she’s going through. 

Of course, we didn’t laugh in front of her. After the visit, we still mentioned her now and then, sent our prayers her way, but we also got back to our own lives. Meanwhile, she’s left facing this unimaginable hardship—alone. 

Is that unfair? Or is that just life? People can support you, but in the end, you face your struggles on your own. They can still laugh while you can’t even muster a smile. Here I am, working in a lively, vibrant office, while she’s likely lying in a hospital bed, dizzy and nauseous, maybe feeling lonely. 

It feels unfair, doesn’t it? 

. 

But when I think back to my own hard times—even now, struggling to finish my thesis—I know I can’t expect my friends to stop being happy just because I’m going through something. They’re preparing for graduation, and they don’t need to hit pause on their joy because of my stress. My suffering doesn’t make their joy any less valid; and even if they did pause, it wouldn't make my pain any less real. In fact, I’d probably feel worse, knowing I was holding them back. 

Life keeps moving, no matter what. And I remind myself that those same friends who are about to graduate early had their own thesis struggles, too. Everyone faces their own problems. Whether they seem harder or easier—it doesn't matter. Everyone’s got something going on.

When my university fellows were going through their own challenges, I supported them where I could, but I didn’t solve their problems for them. Sometimes I helped, and sometimes I didn’t. That’s just how it goes. We can be there for each other, but at the end of the day, we all carry our own burdens. 

. 

So perhaps this is the takeaway: people can—or even have the right to—still laugh when I can't even smile, because life doesn’t pause for anyone (and it sucks, ngl). We can (or we should) help each other, but we each have to face our battles on our own. But, we also deserve moments to laugh and move forward when we can. It isn't unfair—maybe it is? But, at some point, we all carry the burden of that same unfairness.

(So it's fair; maybe.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...