Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Little Things That Warm the Heart in Gramedia

During my time at Gramedia, I stumbled upon a heartwarming scene that left a lasting impression on me. A mother was engaging her young son, teaching him about the alphabet and encouraging him to return a book to its shelf. "Thank you. Good job," she lovingly expressed. Witnessing this exchange filled my heart with warmth and tenderness. It reminded me of the power of gentle words and positive reinforcement in nurturing a child's growth.

As I immersed myself in the surroundings, another interaction caught my attention. A young elementary school student conversed with her mother in English. In that moment, a sense of admiration mingled with a tinge of envy within me. It wasn't until my third year of college that I gained the confidence to speak English fluently, and here were these young children already displaying a command of the language. I couldn't help but feel a twinge of jealousy, but also a sense of wonder at their early accomplishments. It made me reflect on the journey of learning and how we all progress at our own pace.

Curiosity led me to explore the shelves of parenting books. As a twenty-one-year-old, thoughts fluttered through my mind, wondering if the time for such books had arrived. Marriage may not yet be in my immediate future, but the dream of raising children and sharing the joy of reading encyclopedias with them still dances within my heart. It may seem like a small dream, but its sweetness cannot be denied. Dreams come in all shapes and sizes, and it is these seemingly insignificant aspirations that often hold the most profound significance.

In this bustling world, where grand ambitions and achievements often take the spotlight, it's important not to overlook the beauty of the little things. It is in the gentle encouragement of a mother, the innocent conversations of children, and the dreams that whisper within us that we find the true essence of life. These small moments are the threads that weave the tapestry of our existence, creating a tapestry adorned with love, joy, and hope.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...