Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

About Separation and the Promise of Forever

Living far from home has its ups and downs. My university is on a different island, which means I'm separated from my family by miles. Today, I said goodbye to my grandmother, then to my mother at the airport, and finally to my father before he headed off on a business trip. It's always tough being apart from loved ones, but the hardest goodbyes are the ones caused by death. Luckily, in Islam, we have a beautiful concept called akhirat, the afterlife.

In Islam, akhirat reminds us that our time in this world is temporary, but what lies beyond is everlasting. It's like planting seeds: if we do good deeds, they outweigh the bad ones, and we earn God's mercy and approval. This means we have a shot at entering paradise, where we can be reunited with our loved ones who also lived good lives. Isn't that a beautiful idea? It's something that encourages kindness in the world and gives us hope for a forever with those we hold dear.

As I reflect on these thoughts, I find solace in the comforting embrace of Islam's teachings. The concept of akhirat, the eternal afterlife, reminds me that our time in this world is fleeting, but what awaits us is everlasting. It's like planting seeds of goodness; the more we nurture them, the greater the rewards. The idea of reuniting with loved ones in paradise brings a sense of warmth and hope to my heart.

During moments of separation, akhirat serves as a soothing balm, reminding me that our connections extend far beyond this transient existence. It encourages me to spread kindness and love, knowing that these small acts have the power to transcend boundaries and touch lives in ways we may not fully comprehend. The beauty lies in the simplicity of the concept – to live a life filled with goodness, and in doing so, create an eternal bond that surpasses worldly limitations.

So, as I navigate the occasional sadness of temporary goodbyes and the longing for those far away, I take solace in the profound teachings of Islam. I strive to nurture seeds of goodness, allowing love and compassion to bloom in my daily interactions. In this pursuit, I find a sense of peace, knowing that the connections we forge and the love we share have the potential to transcend time and space, ushering us into a realm where separation is no more, and unity reigns forever.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...