Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kuala Lumpur Bound: Notes from a Solo Traveler #1

๐Ÿ“๐Ÿ‘€✈️๐Ÿ™๐Ÿœ๐Ÿ’ค๐ŸŒ†๐Ÿ‘‹๐ŸŒŽ๐Ÿ”Œ๐Ÿ’ป๐Ÿ“š

After more than a year and a half, I finally mustered the courage to sit beside the window on my flight to Kuala Lumpur. There were times when I cried a lot due to my fear of flying, but this time I decided to take the window seat and was rewarded with a beautiful view of the city lights at night. It was a long-awaited sight!

Before my flight, I took some time to perform a short itikaf in the airport prayer room. I was feeling a mix of emotions- nervousness for the journey ahead, sadness for being alone, and maybe even a bit of overthinking about unfinished work and friendships. But during my prayers, I felt a sense of peace and comfort.

After praying, I went on a search for sahoor. I hoped to find KFC in the airport, but there wasn't any open, so I looked for rice. Unfortunately, all I found was noodles, so I grabbed some to go and headed to my gate. As I arrived, people were already queuing to board, but I took a moment to sit and eat my noodles. Just in time, I finished eating, did fajr prayer on the plane, and fell asleep until landing!

As soon as I woke up, my brain felt a bit fuzzy, and I found myself wandering around the massive Kuala Lumpur International Airport, searching for a power outlet. After half an hour of searching, I decided to ask for help from the Malaysia Tourism Office. In less than five minutes, they pointed me to the nearest power outlet. I settled down, did my work, and even assisted in an online class and a studio class. While there, I met a friendly Chinese grandma who couldn't speak English, but we communicated through body language. Though I couldn't help her, she kept smiling and saying "assalamu'alaikum." What a lovely lady!

I learned from my previous lesson and decided to ask for help whenever I wasn't sure about something. It saved me from wasting more time, and now I'm on a bus heading to KL Sentral, feeling excited about what the city has in store for me! ๐ŸšŒ๐Ÿคฉ๐Ÿ‘

P.S. Forgot to mention these stories!

I also had a lovely experience with immigration officers during my trip to Kuala Lumpur! In Indonesia, the immigration officer asked me if I came from Bukittinggi. I told him that I was only born there as my parents worked there, and he joked with me, saying he just wanted to speak to me in the Minang language. We had a good laugh together!

When I arrived in Malaysia, the immigration officer asked if I was traveling alone and if I was brave to do so as a girl. I just laughed and said "yes," taking it as a compliment.

I also had the opportunity to practice my English while in Kuala Lumpur, and I was thrilled to communicate well! ๐Ÿ™Œ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ๐Ÿ‘

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...