Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Bicara

Aku lupa tepatnya berapa hari yang lalu.



Setelah 21 jam tidak tidur, aku terlelap selama hampir enam jam sampai pukul tiga pagi. Iya, siklus tidurku berantakan selama di rumah.

Yang kurasakan saat itu adalah.. kosong. Sampai waktunya sahur, aku terdiam; merenung. Apa saja yang sudah kulakukan? Apakah aku boleh tidur? Tugas apa lagi yang belum kuselesaikan?

Aku berniat menulis beberapa saat setelah matahari terbit,

tapi tidak ada yang tertuang sama sekali pada layar.

Rasanya.. aku cemas.

Aku kembali ke kasur; menenggelamkan diri dalam selimut.

Kalau aku sedang tidak bisa melakukan apa-apa, mungkin aku butuh istirahat.. lagi? Aku masih punya sisa dua jam jika tidur yang baik adalah delapan jam, begitu pikirku.

Singkatnya, aku terbangun lima jam kemudian. Sedikit syok, dan merasa tidurku membuang waktu, tapi mengingat ada tugas yang dikejar untuk malam ini, lagi-lagi aku tidak punya waktu untuk menyesal dan menangis.

Semua berlalu dengan cepat sampai waktu menunjukkan pukul setengah satu pagi. Yang harus kukerjakan, hari itu, mestinya sudah selesai. Mestinya, aku beristirahat. Namun, aku terdorong untuk menonton dokumentasi mereka yang mengidap depresi di YouTube. Apakah aku memancing diriku sendiri? Semoga tidak.

Akhirnya aku memang menangis; sengaja kurekam--tidak untuk dibagikan demi pansos, kok--agar aku "merasa segan" kalau-kalau ingin histeris. Saat kusaksikan lagi, aku jelek juga saat menangis. Hahahaha.

Namun, yang masih terekam dalam kepalaku, sampai hari ini, dari dua video yang kutonton malam itu adalah..

seseorang di antara mereka berkata,

"Aku tidak pernah merencanakannya. Kupikir tidak akan ada yang mengerti, sampai akhirnya aku.. 'bicara' (lagi)."

--seseorang tidak harus merasa cukup kuat untuk melalui badai seorang diri.

Saat menyaksikan itu, aku refleks menjawab, "できないよね、私なら。"

--tidak bisa; aku tidak bisa kalau disuruh bicara. Semustahil.. itu?

Aku memutuskan tidur. Perasaanku cukup membaik setelah beberapa tetes air mata.

Keesokannya.. berarti hari ini? Aku mulai membalas tumpukan pesan yang belum sempat kulirik selama beberapa abad--oke, itu hiperbola. Di antaranya ada pesan dari sahabatku sejak 2014.

"HAIII POOOO."

'Po' dari 'Bakpo' karena wajahku bulat, seperti biasa. Pesannya cukup banyak. Mungkin karena kami terbiasa membalas pesan hampir setelah dua minggu berlalu, jadi sekalian saja banyak-banyak.

"APA KABARR??"

dan sederet pesan lainnya.

Awalnya aku ingin membalas dengan jawaban klasik.

"Alhamdulillaah baikk kokk, kamu gimanaa?"

Akan tetapi, video yang kusimak malam sebelumnya membuatku terperenyak dan berpikir, "Sampai kapan ingin kupadatkan? Sampai tubuhku merasakan Big Bang?"

"Sebenarnya kemarin..."

.

.

Kalau teman-teman berpikir aku sedang sangat tidak baik-baik saja, tidak kok. Semuanya masih terkendali. Mungkin aku kelelahan, atau sedang waktunya saja untuk suasana hatiku meronta-ronta tidak stabil.

Satu yang pasti, yang kuperoleh dari keseharianku dalam.. kurang lebih 72 jam terakhir, physical distancing memang sangat dituntut di tengah pandemi seperti ini,

tapi tidak dengan social distancing--

--ingat, WHO sudah secara resmi menganjurkan pergantian frasa social distancing menjadi physical distancing per tanggal 20 Maret 2020.

"We're changing to say physical distance and that's on purpose because we want people to still remain connected." (WHO, 2020)

Pasti ini adalah salah satu alasan juga bukan, mengapa manusia disebut sebagai makhluk sosial?

.

.

Walaupun tidak setiap rasa dapat terejawantahkan dalam kata,

bicara sering kali menjadi alternatif yang baik

untuk menumpahkan sesuatu yang barangkali tidak lagi elok disimpan lama-lama.

.

.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan, sih,

tapi tetap semangat, ya,


untuk kamu,

aku,

kita semua.

Komentar

  1. Hai, Zara. Blog-nya keren! Semangat terus, ya! Btw gimana caranya biar blognya langsung .com? apakah perlu membeli domain? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo! Terima kasiih yaa, udah dateng ke blog inii dan ninggalin komen ^ ^ Iyapp, akuu beli domain di DomaiNesia ^ ^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...