Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Alegori: Matahari || 91

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang matahari dan pendarnya kala pagi,
sementara aku telungkup redup, berdegup hidup sebatas sayup.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang bulan yang langkahnya bersisian,
sementara aku melulu tergugu, buta bisu tanpa sekutu.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang siang dan tampaknya yang benderang,
sementara aku mengawang tiada mendulang; hari-hari pergi tiada terulang.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang malam yang kiranya temaram,
sementara aku muram penuh lebam; kapal yang lantam berujung karam

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang langit dan geraknya yang berkelit,
sementara aku mematung, menggerung, murung, dimumbung belatung.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang bumi yang seisinya terurai,
sementara aku terselit dan sempit, menyengit dan bingit, mengubit bimbit.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang jiwa dan penciptaannya yang sempurna,
sementara aku, hawaku, angkuhku, lelewaku,

menyalahkan siapa yang tidak berupa,
menyalahkan apa yang tanpa mengapa;

beruntunglah nyawa yang menyucikan jiwa,
sementara aku - bukan, bukan aku;

merugilah nyawa yang menodai jiwa,
sementara aku - ya, aku.

Aku ingin mengadu pada Tuhan,

tentang hari kebangkitan yang hadirnya berketetapan,
sementara aku menggagau Tuhan, merayau harapan,

menyadari pertobatan,
mencari pengampunan.

-05/05 Odessaa Zara

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...