Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Tempat Bunuh Diri Terindah di Jepang

Air terjun kegon (Sumber: cigr2011.org)
Air Terjun Kegon

Kalau melihat pemandangan ini, rasanya indah sekali bukan? Yap, air terjun ini bernama Air Terjun Kegon, salah satu air terjun terindah di Jepang dan merupakan tempat wisata favorit pula. Namun, banyak juga orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya di sini.


Air terjun Kegon adalah air terjun yang berada di Danau Chuzenji, Taman Nasional Nikko, Tochigi, Jepang. Air terjun ini adalah salah satu air terjun yang paling besar di Jepang. Dengan tinggi 97 meter, lebar 7 meter dan debit air yang deras, air terjun Kegon menebar pesonanya ke setiap pengunjung yang datang.

Sumber: traveljournals.net
Karenanya jika berlibur ke Tochigi, jangan lupa mengunjungi air terjun ini dan berbagi ceritanya ke Miichan xD

Dari wikipedia, air terjun Kegon terbentuk karena adanya perubahan aliran Sungai Daiya yang terjadi akibat aliran lahar letusan Gunung Nantai. Jadi, air yang mengalir di air terjun ini berasal dari Sungai Daiya. Air terjun Kegon mengalirkan air yang sangat deras.


Lingkungan di sekitar air terjun yang masih hutan dan dipenuhi pepohonan, membuat udara terasa sejuk. Tak heran jika penduduk Jepang mengatakan, air terjun Kegon merupakan air terjun tercantik yang ada di Jepang.

Air terjun Kegon yang dikelilingi pepohonan hijau (sumber:en.wikipedia.org)
Suasana di sekeliling Air Terjun Kegon ' v ')

Karena suasananya yang begitu indah, apa mungkin itu adalah alasan orang-orang yang bunuh diri untuk menemui kematian di sini? Tapi yang jelas, kalau kalian ke sini, lebih baik tidak meninggalnya nyawa di sini juga ya xD

Meski begitu, tempat ini tetap dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata. Liburan di sini pun semakin seru dengan banyaknya fasilitas penunjang, seperti lift untuk menuruni air terjun. Pengunjung pun diizinkan untuk bermain air di Danau Chuzenji yang bersih, jernih, dan dingin. Belum lagi suasana yang begitu asri, ditambah dengan adanya kuil berukiran tiga monyet di dekatnya (^^)

japannewbie.com
Dilihat dari dekat.. (>w<)

Ukiran tiga monyet di Kuil Toshogu (sumber: elprocrastinador.com)
Tiga ukiran monyet di Kuil Toshogu di dekat Air Terjun Kegon..
Kawaii xD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...