Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Contoh Teks Diskusi: Ibu yang Bekerja di Luar Rumah

Beberapa waktu yang lalu, Miichan bersama teman-teman Miichan: Angga, Aqsal, Fadhiil, Fatkhi, Fauzan, Fira, Ica, Isra, Nadila, Riri, dan Trisa tergabung dalam satu kelompok diskusi. Nah, kami berdua belas terbagi atas dua tim yang setelah itu saling berdebat. Masalah yang kami ambil adalah tentang ibu yang bekerja di luar rumah.

Rasanya berdebat itu.. bagaimana, ya? Gemetaran gitu (>w<) Apalagi kami latihan kurang dari satu jam, kecuali moderator yang sejak seminggu sebelumnya udah dilatih. Pokoknya, terima kasih untuk pengalama debat yang seru itu :D

Nah, kesempatan kali ini, Miichan ingin berbagi teks diskusi yang akhirnya menjadi tugas terakhir kami setelah berdebat. Semoga teks ini bermanfaat dan membantu teman-teman dalam mempelajari teks diskusi, ya! (^^)


Pro dan Kontra 
Ibu yang Bekerja di Luar Rumah
Saat ini, banyak ibu rumah tangga yang memutuskan untuk ikut mencari nafkah dengan berbagai alasan. Salah satu jalan mencari nafkahnya ialah dengan bekerja di luar rumah. Dengan begitu, Ibu akan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah untuk melaksanakan pekerjaannya. Contoh profesi yang mengharuskan ibu bekerja di luar rumah, antara lain guru di sekolah, dosen, pegawai negeri sipil, serta dokter.


Sebagian orang mendukung fenomena ini, tetapi sebagian lainnya menolak. Sebab itulah, peristiwa ibu yang bekerja di luar rumah acap kali menuai perdebatan.

Masyarakat yang mendukung ibu untuk bekerja di luar rumah memiliki berbagai alasan. Salah satunya karena ibu yang bekerja di luar rumah dapat menambah penghasilan, sehingga meringankan beban ayah. Terlebih lagi jika situasi memaksa, seperti ibu yang merupakan single parent, juga bila ayah tak bekerja atau sakit-sakitan. Bisa pula dikarenakan oleh kondisi penghasilan ayah yang tidak mencukupi. Selain itu, banyak pendapat mengatakan apabila ibu bekerja meski ayah pun bekerja, ibu menjadi lebih pengertian karena mengetahui sulitnya mencari nafkah.

Di samping itu, seandainya ibu berpendidikan tinggi, sungguh disayangkan jika ilmunya tidak diterapkan. Salah satunya dengan bekerja di luar rumah. Ini semakin didukung dengan tak adanya larangan hukum maupun agama yang secara jelas menentang ibu untuk bekerja, ditambah pula dengan maraknya persamaan gender di masa ini.

Andai pun itu merupakan inisiatif ibu sendiri, tak masalah asalkan ia mampu menyeimbangkan kedua tugasnya, yaitu sebagai seorang ibu dan pekerja. Sang ayah pun harus rela dan memberi izin kepada ibu. Terkadang, ibu yang bekerja di luar rumah justru lebih mahir dalam memanajemen waktu bila ia mengerti benar akan tugas-tugasnya.

Namun, tidak demikian bagi masyarakat yang menolak. Mereka beralasan bahwa waktu yang dimiliki ibu untuk berkeluarga pasti berkurang akibat pekerjaan. Lebih lagi, ibu tersebut bisa dicap sebagai ibu yang buruk bila keluarga justru terlantar karena ibu tidak mampu mengatur waktu dengan baik. Rumah tangga pun menjadi tak terurus, ditambah anak yang dapat berperilaku bebas dan menjadi nakal karena kurang diperhatikan.

Memiliki asisten rumah tangga mungkin menjadi solusi, namun keberadaan asisten rumah tangga sebagai pengganti ibu di rumah tidak selalu berdampak baik. Sering ditemukan anak yang pada akhirnya menjadi lebih dekat dengan sang asisten dibanding dengan ibunya sendiri. Selain itu, sudah menjadi kebiasaan di Indonesia bahwa ibu harus bertugas di rumah, bukan di luar.

Alasan yang terakhir, kemungkinan munculnya pertengkaran antara ibu dan ayah apabila ibu lebih sukses di dalam pekerjaan. Peristiwa ini tidak selalu terjadi, namun tidak menutup kemungkinan karena masih ada ayah yang tidak mampu menerima kenyataan seperti ini.

Cukup banyak cara yang bisa diambil untuk mengatasi fenomena tersebut. Misalnya, dibangunnya tempat penitipan anak di dekat tempat kerja, jika sang ibu memiliki anak yang masih kecil. Disewanya asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan merawat anak juga dapat dipilih, asal ibu tidak 100% berlepas tangan.

Sedangan solusi yang terkait langsung dengan perusahaan tempat ia bekerja adalah dikuranginya jam atau hari kerja bagi pekerja yang merupakan seorang ibu, sehingga ibu memiliki waktu untuk berada di rumah. Penambahan cuti melahirkan pun bisa dimasukkan. Dengan begitu, ibu dapat berkomunikasi dengan bayinya untuk beberapa bulan sehingga sang bayi mendapatkan cukup perhatian.

Meski terdapat banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan ini, yang terpenting adalah dari diri ibu itu sendiri. Ia harus mampu memaksimalkan kemampuannya sebagai ibu rumah tangga jika sedang berada di rumah, karena ia memiliki tanggung jawab yang sama besarnya seperti tanggung jawabnya sebagai pekerja di perusahaannya. Ibu juga harus meningkatkan komunikasi dan kualitas kebersamaan maupun perhatian dengan keluarga, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Disusun oleh:
Angga Arjuna Wibowo
Annisa Azzuhra
Annisa Isma Shafira
Annisa Nadila Badrani
Aqsal Mulia Hrp.
Fatkhi Rasyad Mahasin
Fauzan Rian Wheeler
Isra Nur Quraini
Naufal Fadhiil Muhammad
Rezkita Nuzul Ramadhani S.
Trisa Rahma Sari Hrp.
Zahra Annisa Fitri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...