Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

[Drabble] Malam Terakhir

Malam Terakhir
.
Cast: Kiko and her friends (no names)
.
Genre: Horror
.
Rating: T
.
Words: 200
.
A fiction by Zahra Annisa Fitri
Inspirated by Fauzan R. W.
.
Happy reading!
.

Malam yang semakin larut mengakibatkan suasana kian panas. Kegundahan Kiko bertambah. Ia tak tahan dengan semua fenomena aneh di seluruh penjuru sekolah. Meski begitu, Kiko tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Gadis berambut pendek itu begitu ketakutan, menyebabkan timbul keinginan ke kamar mandi. Awalnya Kiko enggan, apalagi setelah melihat jarum jam yang keduanya menunjuk ke angka dua belas.

Tapi Kiko sudah tidak kuat.

Bunyi-bunyi tanpa asal yang jelas membangkitkan rasa penasaran, cemas, maupun takut. Ia keluar dari bilik kamar mandi yang baru ia gunakan dengan perasaan tercampur menjadi satu. Suaranya bahkan hampir keluar dengan nyaring ketika tangan dingin bagaikan es batu menyentuh lehernya. Sebelum akhirnya ia terjatuh ke lantai setelah memberontak beberapa saat.

“Aku hanya membalaskan dendamku dulu kepada kalian, yang membullyku sampai membuatku depresi dan bunuh diri. Jangan salah paham,”

Sosok yang berbicara seketika hilang tanpa menyisakan jejak. Hanya meninggalkan mayat teman-temannya yang tergantung dengan tali tambang, juga tubuh Kiko yang telah kaku akibat cekikannya.

Siapa yang tahu bahwa malam terakhir dalam acara mabit tahun ajaran itu akan menjadi malam terakhir dalam kehidupan mereka juga?

“Sama seperti aku yang sekarang, teman-teman. Beristirahatlah dengan tenang,”

***

A/N:
Sebenarnya, Miichan berniat membuat cerita ini untuk diikutsertakan lomba cerita pendek 100 kata. Karena tidak bisa membuat yang sesuai persyaratan, akhirnya Miichan membatalkan niat Miichan. Membuat cerita pendek 100 kata itu ternyata sulit sekali, ya (T^T)

Yah, semoga drabble ini disukai dan kesan horornya terasa/?

Kritik dan saran ditunggu! (^^)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...