Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Fujita Maiko, Pembuat 20 Suara Berbeda dalam 1 Lagu!

Minna~!

Yang namanya Jepang, memang tidak ada habisnya terkait hal-hal kreatif! Ada yang pernah mendengar nama Fujita Maiko? Miichan sendiri belum pernah dengar, karena namanya mungkin belum setenar penyanyi Jepang lainnya (seperti Ayumi H., Utada H., YUI, dll..).


Meski begitu, dia mengcover lagu Let It Go dari Frozen ke dalam versinya sendiri yang benar-benar unik! >< Di dalam lagunya, ia tidak menggunakan instrumen apapun, hanya menggunakan vokal miliknya. Setelah ditotal, ada 20 suara yang berbeda yang ia buat, bahkan ada 54 track setelah diedit dalam satu lagu!

Penyanyi Jepang ini Membuat 20 Suara Berbeda Dalam Satu Lagu!

Sugoi desu ne~! ><

Jika kalian penasaran, kalian bisa melihat videonya di sini (youtube), ataupun mendownloadnya di sini. Tutorial untuk mendownloadnya bisa dilihat di Blog Miyoko-chan : Cara Download dari Youtube Gratis Tanpa Software.

Semoga bermanfaat, ya! ^^

source is here

Komentar

  1. Sugeee itu beda orang atau satu orang yg sma yg dibelakngnyaaa?

    BalasHapus
  2. Tapi ya Miicchan rasanya nama Fujita Maiko itu gk asing buat Shacchi . . . Suaranya juga rasanya Shacchi pernah denger > <

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu orang di belakangnya, Shacchi.. Tapi digabungin entah pakai aplikasi apa, aku Miichan sih ora ngerti/?

      Kalau buat Miichan asing ' - ') Tau deh, siapa tahu Fujita-san penyanyi untuk salah satu OST atau seiyuu dari suatu anime xD #hanya-menerka-nerka

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...