Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kontemplasi Pukul Tiga Pagi

Jam tiga pagi,
jam kepala meminta kontemplasi.

/satu/

Yang hilir mudik dalam kepala
ada, satu tanya,
"Sebenarnya.. aku mau jadi apa?"

Apa cukup menjadi mahasiswa yang belajar bagus-bagus?
Jika iya, berarti cukup bagiku menunggu Agustus,
kemudian kembali berkuliah dengan fokus.

Sayangnya, mataku tidak lepas dari mereka yang terus berjalan
yang kerennya entah mengapa tidak ketulungan.
Sementara aku.. terus-terus rebahan.

Ah, malu.
Tapi aku masih belum tahu.
Sebenarnya apa sih yang aku tuju?

/dua/

Kucoba mencari pembenaran, jadi aku pergi membaca.
Ternyata ada, di buku Psikologi Perkembangan karya Yudrik Jahja.
Katanya, memang banyak masalah baru di tahun-tahun awal dewasa.

Contohnya, bingung ke mana berjalan,
selalu bimbang dengan masa depan,
tertekan untuk lekas menjadi mapan.

Contohnya, merasakan keputusasaan,
ingin menjauh pergi dari kenyataan,
kabur kembali ke masa sekolahan1.

Sayangnya, hidup enggan dijeda untuk sekadar bernapas.
Baik, sebenarnya bisa, tapi setelah itu aku dirundung cemas.
Orang-orang sudah jauh melangkah; kenapa aku tidak bergegas?

/tiga/

Merujuk ke ilmu psikologi,
memang ada masanya semua terasa membebani,
memikirkan masa depan tanpa tahu kapan berhenti.

Namun, jika kupikirkan dalam hening melulu,
akhirnya berapa lama pun waktu berlalu,
jawabannya tidak kunjung aku temu.

Mungkin itu alasan aku menumpahkan perasaan.
Karena.. jika teorinya benar, mungkin aku tidak sendirian,
mungkin ada teman-teman yang sama-sama tengah mencari tujuan.

Kemudian saat aku membaca lagi,
ternyata orang-orang melakukan upaya kecil saat merasakan ini,
misalnya membagi perasaan kepada orang lain alias mengungkapkan diri2.

/empat/

Sayangnya, tidak semua orang bisa
Pun aku juga merasa khawatir dan curiga,
"Memangnya aku bisa tampil dan bercerita?"

Namun, pengungkapan diri katanya adalah indikasi kesehatan mental3
dan merupakan hal yang penting juga dalam keterampilan sosial4,
jadi.. tidak apa-apa sepertinya aku jajal

/lima/

Pada akhirnya, aku masih belum tahu ingin menjadi apa,
tapi aku bersyukur setidaknya sedikit lebih lega;
ternyata bisa kukatakan juga.

***

Referensi
1Wibowo, A. S. (2017). Mantra Kehidupan, Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome dan Quarter-Life Crisis. Elex Media Komputindo.
2Mutiara, Yeni. (2018). Quarter Life Crisis pada Mahasiswa BKI Tingkat Akhir. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3Johnson, James & Godin, Steve & Bloomquist, Michael. (1981). Human Factors Engineering in Computerized Mental Health Care Delivery. Behavior Research Methods & Instrumentation. 13. 425-429. 10.3758/BF03202049.
4Carbery, J., & Buhrmester, D. (1998). Friendship and Need Fulfillment During Three Phases of Young Adulthood. Journal of Social and Personal Relationships, 15(3), 393–409.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...