Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

That's What We Called Proud

Saya bersekolah seperti remaja pada umumya. Saya berangkat pukul enam dan kembali kurang lebih pukul empat, kadang-kadang pukul setengah tujuh. Banyak hal yang saya pelajari di sekolah--wajar memang. Namun, saya pernah mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga, justru di luar sekolah.

Oleh mereka yang bukan guru--tidak pernah dianggap guru.

Seorang tukang becak telah menyadarkan saya.



That's What We Called Proud

Hari itu, saya pulang dengan ibu saya. Dengan becak, tentu saja. Tak berapa lama, tukang becak itu mulai mengajak kami mengobrol. Dari topik yang sederhana, seperti "Macet, ya, Bu, kalau sudah jam segini, mah,"

Sampai akhirnya, ketika adzan maghrib berkumandang, bapak itu menepikan becak dan berkata lagi, "Bu, maaf berhenti sebentar. Saya mau buka puasa,"

Saya terperanjat mendengarnya--sedikit tersindir juga. Profesi apa saja boleh, tapi ibadah tetap jalan. Apalah daya saya yang sering terlena pekerjaan dunia. Itu yang saya pikirkan.

Sedangkan ibu saya langsung menyahut, "O iya, Pak, silakan silakan. Puasa apa, Pak, omong-omong?"

"Senin-Kamis, Bu,"

Sekitar dua menit berlalu, bapak itu kembali menjalankan becak, sekaligus memulai pembicaraan baru.

"Saya ini, Bu, Cina, tapi muslim,"

"Ah, masa Bapak Cina? Dari mana?" Ibu saya membalas dengan sedikit guyonan.

"Lho, iya, Bu," Bapak itu menoleh ke arah kami dan membuka sedikit helmnya. "Nah, kan,"

"O iya,"

Bapak itu kembali memandang ke depan, tetapi bibirnya lanjut bercerita.

"Saya ini dulu non-muslim, Bu, tapi mualaf beberapa tahun yang lalu. Sekarang saya sudah berkeluarga. Orangtua saya, mah, masih ada. Itu tinggal di daerah (saya lupa apa namanya). Sayangnya, mereka memang nggak suka saya masuk Islam.

"Saya, Bu, sudah beberapa kali mencoba melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan. Sempat waktu itu nyaris diterima. Tapi, ya, Bu, waktu menunjukkan KTP, saya ditolak karena saya muslim. Ya sudahlah, Bu, saya akhirnya menarik becak saja. Yang penting halal kan, ya, Bu? Hehe,"

Ibu saya mengangguk-angguk, sedangkan saya memperhatikan dalam diam.

Banyak hal yang saya pikirkan dalam kepala saya. Yang terutama, tentu kagum dengan bapak itu. Seseorang yang akhirnya mendapat hidayah dari Allah, kemudian dia bangga dan kukuh berpegang dengan keyakinannya, tidak peduli banyak hal yang--jika sekilas kita lihat--tidak bisa dia dapatkan sementang dia seorang Muslim.

Saya jadi malu sendiri..

Padahal saya sudah "dijadikan" beragama Islam oleh orangtua saya; sudah dimudahkan Allah untuk mendapat petunjuk sejak saya lahir. Akan tetapi, kadang sayanya saja yang tidak tahu diri. Masih suka lalai, tanpa tahu hidayah itu tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.

Walau suara klakson menghujani dari mana-mana, saya merasa pada waktu itulah saya sungguh-sungguh bersyukur telah terlahir dalam keluarga Islam; bersyukur belum pernah dihadapkan pada hal sulit karena ke-Islam-an saya ini.

Senja itu menyadarkan saya. 

Setibanya di rumah, ibu saya memberi bayaran sesuai yang telah dijanjikan. Namun, tidak ada kembalian. Ibu saya pun berkata bahwa tidak dikembalikan pun tidak apa-apa.

Kemudian, ucapan bapak itu kembali membuat saya terperanjat..

"Wah, alhamdulillah, Bu, terima kasih banyak. Semoga kebaikan Ibu dibalas sama Allah, ya, Bu,"

Jantung saya semakin berdegup sendiri mendengarnya. Seringkali kita hanya mengucapkan terima kasih--yang maknanya memang sudah baik--tapi rasanya mengharukan sekali saat seseorang mulai menghaturkan doa untuk kita.

Suara becak bapak itu terdengar semakin jauh seiring saya memasuki rumah. Dalam hati, saya ikut melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan kepada ibu saya. Berdoa untuknya, semoga keteguhannya memegang Islam memudahkannya melalui kehidupan dunia, juga mempermudahnya di akhirat kelak.

Aamiin.

08/12/2016
-Zaf-

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...