Langsung ke konten utama

kok

[AKB0048 Fanfiction] Drabble YukaXMamoru

Minna, konnichi wa~!

Miichan belum pernah membuat drabble sebelumnya, dan ini adalah drabble pertama Miichan. Drabble adalah salah satu jenis fanfiction dengan panjang 100 - 200 kata. Pokoknya, drabble adalah fanfiction yang singkat sekali ><

Miichan paling suka pair YukaXMamoru di AKB0048. Memang, sih, satu-satunya pair yang paling umum di AKB0048 cuma ini =3= Ya sudah, ya, semoga kalian suka ^^

P.S. Maaf untuk judul yang begitu simpel =3=


Drabble YukaXMamoru
.
Warning!
Typo(s), songfic
.
Tokoh bukan milik Miichan, milik pemilik AKB0048
.
Terima kasih untuk AKB48 atas lagunya, Kokoro no Placard
.
Miichan tidak mengambil keuntungan apa-apa atas drabble ini
.
Selamat membaca!



Aku telah memasuki kelasmu
Tepatnya berdiri di depan mejamu
Namun kau tengah bercanda dengan teman di belakangmu

Murid lain menatapku aneh
Mencoba memberitahumu bahwa ada seseorang di belakang
Tapi telunjukku malah kuletakkan di depan bibir tanpa disadari

Meski hanya sesaat ataupun beberapa detik
Sebegitu tak inginnyakah kau melihatku?
Meski hanya satu ataupun kebetulan
Tak mungkinkah kau memberiku kesempatan?

Padahal aku telah berharap dan menunggu
Sendirian dalam keheningan kamar di tiap malam

Aku sedikit tidak sabar
Meski sebenarnya jika kau menoleh
Aku menjadi gugup dan membisu
Kenapa aku tidak bisa?

Andai kata “suka” dapat terlontar dengan mudah
Atau kau dapat menangkap perasaan ini

Aku pernah ingin mengaku
Tapi tanganku malah menutup mulutku
Membuat suasana menjadi awkward

Orang-orang memang menyimpan kata penting dalam lubuk hati mereka
Sudah saatnya aku mengeluarkannya
Aku akan jujur untuk kali ini

Meski saat bibirku telah berucap
Kau menjadi bingung atau terganggu
Meski aku sendiri pun berdebar dan tergagap
Aku yakin perasaan ini akan lebih baik
Jadi akan aku ungkapkan

Sekarang
Atau tidak sama sekali

“Aku menyukaimu,”

14/02
Ichijou Yuuka

Sekian dari Miichan c(' - 'c)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...