Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Cara Meminta Maaf Bagi Orang Jepang

Konnichi wa! ^^

Meminta maaf dan menerima maaf adalah hal yang memerlukan proses bukan? Kalau kita salah, terkadang masih banyak di antara kita yang diam saja atau seolah tidak tahu (atau memang tidak tahu?). Padahal kedua hal itu sebenarnya simpel sekali dan lebih baik melakukannya, daripada terjadi permusuhan berkepanjangan.

Oke! Jadi kesempatan kali ini, Miichan ingin berbagi informasi tentang Cara Meminta Maaf Bagi Orang Jepang. Kebanyakan orang akan langsung meminta maaf jika melakuka salah. Tapi, pasti akan ada perbedaan, baik sedikit ataupun banyak di setiap daerah. Dan ini adalah kebiasaan meminta maaf di Jepang. Check these out!


1) Jika hanya karena menyenggol, biasanya mengucapkan "Gomennasai" atau "Sumimasen" (maaf) sambil mengangguk.
1
Kiri : "Sumimasen." (maaf)
Kanan :"Iie." (tidak apa-apa)

2. Jika lalai berjanji antar teman, misalnya saat janjian ke toko buku dan kita telat, biasanya mengucapkan "Gomen ne, osoku natta" (maaf, ya, aku telat)

Sungkyukwan Scandal Lesson (7)
Contoh seseorang yang terlambat di Jepang

3) Jika salah menyebutkan nama seseorang, biasanya akan mengucapkan "Shitsurei itashimashita" (maaf, saya lancang)
3

4) Jika kesalahannya dalam bentuk pelayanan yang tidak memuaskan, biasanya akan membungkuk dan mengucapkan "Moushiwake gozaimasen" (maaf yang sedalam-dalamnya)
4

5) Sementara permintaan maaf karena kesalahannya sangat fatal, misalnya sampai menimbulkan korban cacat, korban jiwa, seseorang sakit, dan sebagainya, berbeda lagi. Apalagi jika disebabkan oleh perusahaan. Biasanya seluruh jajaran manajer akan mengadakan siaran pers, lalu menjelaskan penyesalan yang kebanyakan sambil berlinang air mata. Setelah semua itu, akan diakhiri dengan pembungkukan 90 derajat yang lama (sekitar 5 menit) dan mengucapkan "Moushiwake gozaimasen" (maaf yang sedalam-dalamnya).

Kalau cara meminta maaf teman-teman, bagaimana?

Source here

Komentar

  1. Wow, ada banyak cara ya untuk meminta maaf di Jepang

    Nice Post Miichan ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekalii ^^
      Teirma kasih banyak, Reykatzen ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...