Langsung ke konten utama

Postingan

kok

Postingan terbaru

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...

i hadn’t taken a bath nor washed my face nor brushed my teeth, but i went to jakarta

At six forty, I woke up and thought I’d skip the networking session in Jakarta that I’d planned to attend. But at the very last minute, I thought, " Why not? "—because I hadn’t taken a bath, hadn’t washed my face or brushed my teeth, but then I just threw on a mask; because I hadn’t done laundry either, so I only had one piece of clothing left, and it was super wrinkle, but then I wore it anyway; because I was still really sleepy, but then I figured I’d solve everything later. So, I just threw whatever I thought I’d need into my backpack and left. At nine thirty, I arrived at the travel pool, still half-asleep. I dragged myself toward the MRT. The first thing that popped into my head was, “ Let’s go to Blok M. ” I could find food there, maybe buy some clothes, and most importantly: I was already a bit familiar with the area. That alone took half the burden off my shoulders. I had brunch at a small toast shop I’d been to before, then scrolled through SNS to decide where to fi...

Sistem Transportasi Darat untuk Penanggulangan Bencana yang Tepat Demi Kesejahteraan Masyarakat

Esai ini ditulis oleh Zahra Annisa Fitri dan meraih juara ke-2 dalam "Integrated, Smart, and Sustainable Indonesia Land Transportation System" Essay Competition oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia & Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada Oktober 2024 Bencana tidak mendiskriminasi; demikian saya ulang-ulang pernyataan tersebut untuk membuka baik skripsi maupun tesis saya. Dalam esai terkait transportasi darat ini pun, saya ingin mengungkapkan hal serupa. Bencana tidak mendiskriminasi, tapi pemulihan bencana benar mendiskriminasi, sebagaimana tajuk tulisan Tidwell (2019). Bencana, yang dapat mengakibatkan kerusakan signifikan, akan menurunkan kesejahteraan rumah tangga serta status kemiskinan mereka, seperti pernyataan Dartanto (2017). Itulah mengapa bahasan bencana diangkat ketika topik kesejahteraan masyarakat dipilih untuk esai ini.  Baru Maret lalu, kesejahteraan masyarakat dipertaruhkan setelah bencana terjadi dan akses transportasi ...