- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sedari hari pertama tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Agustus turun, rasanya limbung sekali memilah aplikasi apa yang hendak direkomendasikan. Yang kerap saya gunakan di antaranya Google Calendar, Google Spreadsheet, alarm—walau semuanya sangat menolong, rasa-rasanya sama sekali tak ada yang istimewa. Semua orang harusnya paham mengapa aplikasi itu dipakai, jadi seperti terlampau klise andai saya turut merekomendasikannya lagi.
Namun, malam ini setelah tiga jam mendekam di kafe langganan saya, lagi-lagi saya menangkap sepasang ayah dan anak yang dalam dua pekan terakhir ikut menikmati santapan di gerai dekat stasiun itu. Ada buku yang saya-tak-tahu-subjeknya-apa terbentang di meja hadapan mereka, tetapi yang memikat adalah mengamati keduanya bermain gawai bersama. Saya jadi tahu karena suara kekeh mereka cenderung mengundang saya menoleh. Ah, iri sekali; saya yang di perantauan ini jadi rindu orang tua saya.
Anyway, Switch, kalau saya tak keliru—itu yang mereka mainkan. Wujudnya serupa dengan milik suami saya di rumah. Biasanya bapak-anak tersebut akan bersahutan seraya bertanding, entah menjadi satu regu atau justru saling berebut kemenangan. Usai satu (atau lebih) ronde, biasanya anak laki-laki yang riang itu beralih sejenak membaca dan menulis, sementara sang ayah tampak memesan lagi tidak tahu untuk keberapa kalinya, lalu membawa nampan cokelat berisi kudapan ringan itu ke meja mereka. Usai sekian waktu si kecil fokus menyelesaikan tugasnya, keduanya akan bermain lagi dengan sukaria. Saya jadi hafal betul karena akhir-akhir ini, setiap kali berkunjung, selain mengedar pandang mencari kursi lowong, saya juga akan "mencari" apakah mereka berdua hadir kembali malam itu; lantas sembari menunaikan tugas saya sendiri, saya juga mencuri lihat apa yang mereka lakukan. Lama-lama jadi semacam kebiasaan kecil yang entah kenapa jadi saya nanti-nantikan pula.
Sayajadi teringat beberapa bulan silam saat saya masih gandrung bermain The Almanac. Klaimnya ada 10+ puzzle dan 3000+ level, tapi sudah genap sebulan saya tak membuka permainan ini lagi lantaran beralih ke gim lain. Kini saya "masih" di level 875, tapi dari ratusan level itu, sebagian di antaranya tak saya mainkan seorang diri—berdua, bergiliran, kadang berebut kesempatan layaknya bocah yang enggan mengalah.
Di antara 10 jenis teka-teki—Sudoku, Atoms, Snap, Pipes, Mosaic, Sets, Shikaku, LITS, Mambo, dan Kings—Cio (suami saya) paling gemar Atoms. Bentukannya seperti di bawah ini.
Setiap saya mendapat level bertipe Atoms, saya mengoper ponsel ke Cio dan netranya tiba-tiba berbinar-binar. Bibirnya ikut menyungging lebar, seolah dianugerahi kado paling indah sedunia. Biasanya setelah menuntaskannya, Cio jadi lanjut memainkan level berikutnya kendati berlainan jenis permainan, tapi pasti dikembalikan kepada saya kalau sudah mendapat tipe Pipes. Tidak tahu juga, ya, apakah karena Cio tahu Pipes adalah favorit saya di The Almanac, atau sebab Cio memang tidak suka jaga, atau kepalang jemu melihat saya memainkan Pipes 32895702x, apalagi kalau sudah tipe mega. Kurang lebih wujudnya seperti ini (saya ambil dari YouTube, tapi seingat saya Mega Pipes lebih "mega" lagi). Seru sekali; saya kerap beradu dengan waktu, berhasrat menuntaskan Mega Pipes di bawah dua menit, walau tak jarang meleset beberapa detik dan berbuah protes kecil-kecilan kepada diri sendiri. Makanya sering kali saya berjanji, kalau berhasil di bawah dua menit, saya stop bermain dan bergegas tidur, jadi di satu sisi, sih, senang juga ketika gagal karena artinya saya akan terus bermain :D
Kenangan itu terpantik kembali berkat sepasang ayah-anak di kafe malam ini. Sebenarnya yang jadi saya ingat ada lebih banyak lagi, termasuk masa lalu bersama orang tua saya, terlebih kala saya masih sangat belia dan perlu ditemani menjelang lelap. Barangkali Ayah, Bunda, dan saya tidak pernah bermain gawai bersama, tapi kehangatannya masih mengalun pelan di ingatan—entah lewat dongeng sebelum lelap, lagu yang dilantunkan asal-asalan, atau obrolan ngalor-ngidul yang entah bagaimana masih lekat bertahun-tahun berselang.
Tentu setiap keluarga punya "ritualnya" sendiri, punya cara khas berkumpul dan bergembira, dengan bapak-anak di kafe itu kebetulan menemu caranya lewat Switch dan roti di cabang St Marc yang paling dekat dengan tempat saya tinggal. Satu ronde permainan dan satu penggal roti mereka itu kemudian menjadi satu lagi kisah yang tanpa mereka sadar turut menghangatkan hati orang asing ini.
Saya juga jadi merenungkan di tengah semakin cepatnya dunia, ketika semua orang sudah berlomba-lomba menjadi produktif dan berpacu 24/7 menghasilkan sesuatu, sepertinya yang dituturkan Zeke Yeager dalam serial Attack on Titan (apakah ada yang menyimak juga anime satu itu?) sangat benar adanya. "If it meant getting to play catch with you again, I guess I wouldn't mind being born once more after all," ungkapnya. Sebagai konteks, karakter Zeke bisa dibilang tidak menikmati masa kecil sebagaimana seharusnya, sampai akhirnya di tengah lelah-letih hari-hari di akademi, Zeke bertemu sosok Ksaver yang mengajaknya bermain lempar-tangkap bola. Maka di akhir kisah Attack on Titan yang sangat kelam, dengan Zeke yang merasa kehidupan kaumnya mestinya disudahi dengan rencana bertajuk "Euthanasia Plan", Zeke kemudian menyadari betapa masih inginnya ia melanjutkan hidup kalau untuk bermain bola lagi dengan Ksaver.
Kembali lagi pada malam-malam saya tergila-gila dengan The Almanac, akhirnya yang terpatri di benak saya bukan level berapa yang berhasil dituntaskan, atau seberapa kilat Mega Pipes bisa diselesaikan. Justru, yang begitu membekas dan membuat saya tersenyum saat mengetik ini adalah binar mata Cio yang mencoba menuntaskan Atoms, gelak tawa kami sembari bermain yang mungkin memecah hening malam, juga bait-bait kami memuji (dan mencinta) dengan untaian kata berlebihan yang, anehnya, terasa sangat pas.
Jadi aplikasi apa yang hendak saya rekomendasikan? Bukan aplikasi produktivitas atau pengingat agenda yang mulanya saya kira akan saya pilih, melainkan sebuah game yang kebetulan bernama "The Almanac". Lebih tepatnya, saya ingin merekomendasikan "aplikasi" penyambung kehangatan antarpasangan, antargenerasi, antarsiapa pun yang ingin berdampingan sekalipun tanpa banyak berujar. Mungkin sesekali diselingi decak kesal yang tak sungguh-sungguh kesal, mungkin juga diiringi derai tawa karena sesuatu sangat menggelitik perut. Apapun itu, dengan kian maraknya aplikasi yang mempermudah hidup, tentu saya bersyukur karena kini yang jauh jadi bisa terasa dekat; tapi semoga yang dekat pun akan selalu dekat, lebih-lebih jadi semakin dekat, salah satu caranya dengan memakai aplikasi-aplikasi tersebut.





Teh Zara, mataku berkunang-kunang di bagian Teteh kangen orang tua, dan kenangan masa kecil Teteh bersama Mama Papa menjelang tidur.... :(
BalasHapusAhh unik juga ya, Teh, merekomendasikan game. Apakah harus kucoba? Mengingat game tersebut bisa digunakan bareng-bareng, gak individual semata-mata, ehehe. Nuhun infonya ya, Teh, saya jadi tahu ada game ini. 🥰🙏🏻
waah menarik banget rekomendasinya Teh Zara, aku mau coba ah unduh The Almanac buat main bersama anak. Apakah aplikasinya berbayar?
BalasHapus