Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

in this fast-paced, hustle-bustle world

Hook is everything. First impressions shape the experience. The beginning sets the tone. Just like how I used to feel hopeless if I woke up late—like my whole day was ruined before it even began. “Today isn’t perfect anymore.” At least, that’s what I once believed.

Then, I picked up Outliers by Malcolm Gladwell. I started with the Introduction, and honestly? It felt slow. Page after page about some town called Roseto Valfortore. I kept thinking, Why do I need to know all this? What’s the point? But I kept reading, and by the end of those 12 pages—boom. It hit me. Insightful. Eye-opening. Now, I can’t wait to read the next chapter.

So why did I stick with it? Maybe because Malcolm Gladwell is a big name—the author of The Tipping Point and Blink, another international bestseller. I knew the payoff would be worth it. Or maybe it was my own commitment—I had already signed up for a daily reading challenge, so I had to finish it this month.

Or… maybe it was something else. Maybe I’ve just gotten too used to fast-paced content. Social media moves at lightning speed—scroll, like, next. Even hiring managers take only six or seven seconds to scan a CV. Everything is quick, instant. And in the process, I forgot how to slow down. How to enjoy the art of storytelling.

Because really, if Gladwell had just said, "Roseto is an outlier because almost no one under 65 has heart disease, thanks to their community culture."—End of story. That would’ve been… meh. No depth. No build-up. No impact.

But instead, he takes his time. He walks me through the migration of the Rosetans, dedicating two full pages to their journey from 1882 to 1896. He even includes a scene of Dr. Stewart Wolf talking to the mayor, laying the groundwork before hitting me with the key insight.

And it made me realize—maybe life works the same way. I can’t just skip to the result. I have to go through the story. Often, I'm so focused on the destination that I forget to enjoy the journey. Just like how festival preparations can be more fun than the festival itself (I think that’s from a song? Or a manga? Can’t remember).

So, maybe the lesson here is to slow down. Breathe. Be present. Live in the moment. Especially in this fast-paced, hustle-bustle world—I need to remember that not everything is meant to be rushed.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...