Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Not as Bad as I Thought

Alright, this is gonna be a short one because I’m knee-deep in work right now. But an idea popped into my head, and I needed to jot it down to clear my head from some confusing tasks.

So, here’s the scoop: I’m currently on a 3-month contract, and I’ll be wrapping it up in just over a month. It might get extended, and honestly, why not? I dodge the whole job hunting scene, which can totally crush your confidence for a bit. Plus, the pay’s a smidge above minimum wage, and there are those sweet perks like free snacks or lunch from office events or just random kindness from coworkers.

But here’s the kicker—it’s all desk work, from 10 to 7. I’m starting to crave some adventure or at least some fresh air. Everyone here is super nice, but I can’t help but envy some of my friends whose supervisors are inspiring, motivating, and challenging in a good way. Maybe it’s because I’m stuck in a government gig that doesn’t really support that vibe (swear it’s not my supervisor’s fault!).

As this is my first job, I was seriously hesitant to break the news to my mom. I was bracing myself for something like, “Gen Z, huh? Can’t stick to one job?” or “That’s the hustle. Deal with it. That’s how workplaces are.” or even, “Searching for work is more exhausting than the actual job.” But here’s the thing—I decided not to extend my contract, not to bail halfway. And it wasn’t even my mom’s style to react that way! I was just overthinking and spiraling into negativity.

Eventually, I couldn’t keep it bottled up anymore. After getting some awesome support from my significant other, I finally told my mom. And bam, she was just as supportive! She said, “I thought your job wasn’t all that desk-bound, and even if it was (since it’s government work and all), you never complained, so I thought you were enjoying it. But if you don’t want to extend, that’s totally fine! This was just your first experience anyway.” And she was so happy about it. She was even proud that I made the decision after discussing it with my SO and her, not just flying solo.

So yeah, it’s not as bad as I thought. It feels amazing to finally share what I’d been holding onto and get that supportive response. I always knew my family loved me, but sometimes I just need to hear it out loud; and sometimes it’s hard to see it when you’re stuck in your own head.

Anyway, I still have about a month and a week left. I could still change my mind, but for now, I’m just glad things aren’t as bleak in my head as they were. Cheers to that!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...