Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

wishes

I couldn't sleep last night. It was 1 am and my mind was racing, lost in a maze of thoughts and worries. The darkness outside was absolute, and the silence seemed to amplify the sound of my racing heartbeat. I felt lonely and isolated, like I was the only person awake in the world. It was a strange feeling, and it made me think about my life and the people around me.

I couldn't help but remember the sound of my mother's voice on the phone earlier that day. She sounded sad and tired, and it made me feel helpless. My grandmother was sick, and I knew it was weighing heavily on her. I wished I could turn back the clock, to the time when I was a child and everything seemed so simple and carefree. It was a time when the world was a kinder and more loving place, and I didn't yet know the bitter taste of life's hardships.

As I lay there, I also thought about my friends. I knew that some of them were going through difficult times, and it pained me that I couldn't be there for them. I wanted to wipe away their tears and offer a comforting embrace, but I was stuck in my own little world, unable to reach out and make a difference.

In that moment, I wished I could be perfect. I wished I could be a source of happiness for everyone, someone who could diminish all the sadness and pain in the world. But I knew that was impossible. Life was a balance of light and dark, and there was no way to experience happiness without also experiencing sadness.

All I wanted was to be in someone's embrace, to feel the warmth and comfort of another person, to know that everything was going to be okay. And if I couldn't have that for myself, then I wished I could be the one to offer that comfort to others.

Eventually, I fell asleep, exhausted from the emotional rollercoaster of the night. But the thoughts and feelings stayed with me, and I knew that they would continue to weigh on my mind for a long time to come.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...