Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

SUP Week 14 Review: Inclusion of Urban Minorities in Japan

  •  Foreign residents are increasing in Japan since 1948.
    • While the population of Japanese citizens dropped by 500,000 in 2019, the country's foreign residents increased by 200,000[1].
    • But, even though foreign workers staying in Japan already have a job in the country when they arrive, those who have stayed in Japan over a long term face a higher probability of losing their jobs than Japanese people due to their low adaptability to the Japanese labor market; thus they experience more difficulties, including unfamiliarity with Japanese employment practices and language barriers, than Japanese people when they look for a new job after becoming jobless[2].
  • But, Korean with permanent residence right decrease.
    • The most significant cause is the increase in the number of those becoming naturalized Japanese citizens. The first- and second-generation Zainichi Koreans had a strong attachment to Korea and hence a reluctance to naturalize; however, the third, fourth, and fifth generations have grown up with Japanese cultural and social arrangements, and find it easy to make pragmatic decisions about their nationality/citizenship. Also, it is the natural result both of an aging population and a declining birthrate which probably roughly approximate Japanese demographic trends[3].
  • Japan also has a history of cholera.
    • Before the arrival of cholera, Japan had almost no medical responses to the epidemic. People resorted to prayer, sticking protective charms on their doors and staying inside, or beating drums and ringing bells to drive the sickness away. Infectious disease is said to be the mother of public health, and Japan’s cholera epidemics rapidly raised awareness of the importance of hygiene[4].
  • Actually, one of the highlights of this class is Korean settlement in (past) Japan that might be discriminated against. However, I didn't pay attention too much. Just for your information, the settlements were in Osaka (Ikuno Korean Town) and Kyoto (Higashikujo District, Matsunoki District, Hiyoshi District, Tode District).
  • Buraku Discrimination which led to the Declaration and General Principle of the Suiheisha in 1922.
    • Buraku people or Burakumin (min refers to people) are the largest discriminated-against population in Japan. They are not a racial or a national minority, but a caste-like minority among the ethnic Japanese. They are generally recognized as descendants of outcaste populations in the feudal days[5]. 
    •  In 1922 they founded in Kyoto the National Levelers' Association (Zenkoku Suiheisha) whose main objective is to eradicate Buraku discrimination[6].

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...