Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

KM ITB dan Saya

Fase Tahap Paling Bahagia sudah selesai dan waktu terus bergulir. Sebenarnya saya senang-senang saja menyudahi masa TPB; menyudahi masa saya menjalin hubungan love-hate dengan mata kuliah matematika, fisika, dan kimia; tetapi ada hal lain yang membuat saya semakin senang menyudahi masa TPB.

Peluang saya untuk berkembang semakin besar.

Sebenarnya di tingkat berapa pun, peluang untuk berkembang itu ada. Hanya saja, jika dibandingkan dengan tahun pertama, saya sudah tidak buta lagi dan mungkin lebih mampu memantapkan hati memilih wadah mana untuk berkembang. Seperti yang pernah saya dengar saat Online Onderwijs, "ITB itu seperti pasar malam, wahananya banyak sekali," dan sampai sekarang saya masih meyakini hal tersebut.

Saat ini, saat saya menggarap tulisan ini, saya hanyalah anggota biasa dalam Keluarga Mahasiswa ITB alias KM ITB. Partisipasi saya sebatas ikut serta dalam proyek yang tengah diberlangsungkan Kemenkoan Karya Inovasi Kabinet Arunika KM ITB, juga menjadi anggota di beberapa unit—anggota Divisi Redaksi Majalah Boulevard ITB, anggota Divisi Bahasa Unit Kebudayaan Jepang ITB, serta anggota Departemen Propaganda Annisaa Keluarga Mahasiswa Islam ITB. Beberapa kepanitiaan pusat juga pernah saya ikuti. Misalnya, menjadi komandan pasukan untuk kegiatan Aku Masuk ITB 2020, serta menjadi anggota Divisi Pengolahan Data dan Metode Terpusat Appreciation Night ITB 2020.

Chaos? Pada kebanyakan waktu, iya. Akan tetapi, hal tersebut sepadan dengan banyaknya perkembangan yang saya rasakan. Hard skill, misalnya, karena saya kebanyakan berpartisipasi dalam kegiatan tulis-menulis, sepertinya kemampuan menulis saya semakin terasah walaupun saya tahu saya masih harus banyak belajar. Di sisi lain, soft skill saya juga ikut berkembang. Tiga yang paling terasa adalah kemampuan memanajemen waktu, kemampuan memimpin, serta kemampuan berkomunikasi. 

Perkembangan lainnya yang saya rasakan tentu saja perkembangan lingkaran relasi saya selama berkuliah. Di awal-awal semester 1 dulu saya hanyalah mahasiswa shy shy cat yang mungkin berjalan sendirian menuju indekos. Di pertengahan semester 2, di penghujung perkuliahan tatap muka sebelum pandemi menyerang, terkadang saya masih berjalan sendirian, tetapi setidaknya ada saja orang untuk disapa sepanjang perjalanan.

Akhir kata, perjalanan saya tentu saja masih panjang. Sekurang-kurangnya masih ada tiga tahun lagi sebelum saya angkat kaki dari kampus gajah duduk tersebut, sebelum saya menyudahi ke-chaos-an hari-hari saya sebagai anggota KM ITB. Namun, dalam tiga tahun tersebut, saya akan mencoba untuk terus mengembangkan diri dan memberikan kontribusi bagi wadah tempat saya bernaung itu. Misalnya, semakin aktif di unit dan kepanitiaan, dan.. tentu saja di himpunan—nanti, seandainya saya berhasil melewati sepak terjang orientasi studi jurusan. Apakah dengan itu kehidupan saya sebagai mahasiswa akan semakin chaos? Entahlah, tapi saya percaya dengan kata-kata Imam Syafi'i,

"Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan,"

dan saya percaya bahwa KM ITB adalah salah satu wadah yang tepat untuk saya mengembangkan diri melalui berbagai "wahana"nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...