Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

EJS Stories: Sumut Pos

"I think there should be a good balance between being a good student and being able to enjoy your high school life." 
- Vanessa Minnillo

Bukan cuma Miichan, tapi Miichan lihat teman-teman seperjuangan ngeblog yang lain juga dibuat "keteter" oleh sekolah. Wajar. Miichan juga gitu. Namun, yang penting sebenarnya, yaitu "apakah "keteter"an yang diakibatkan sekolah bermanfaat untuk kita?"

Percuma kalau kita babak belur ngerjain tugas atau ikut event-event, tapi kita pun tidak bisa mengambil "sesuatu". 

Kalau Miichan, sambil berusaha memetik pengajaran yang terselubung, selalu mencoba menikmati apa yang membuat Miichan "keteter"an, meski kadang-kadang ngeluh sendiri pengen nangis. Salah satunya, kegiatan ekstrakulikuler--meskipun tidak se-"menantang" pekerjaan rumah.

*lambaikan tangan pada PR fisika*

EJS SMAN 1 Medan
https://twitter.com/ejs_smansa

EJS. Ekstrakulikuler Jurnalistik dan Sastra. Spesial milik sekolah Miichan, SMANSA Medan.

Jumat kemarin, 19 Agustus 2016, selepas lomba speech, Miichan ngebut ke sekolah sambil nangis di jalan karena pidatonya mengeewakan. Setelah kegiatan keputrian, atas nama EJS, Miichan ikut bersama teman-teman menuju kantor pusat Sumut Pos.

via Google Maps


Kami sampai sekitar pukul setengah tiga, lalu diboyong ke (sepertinya) ruang rapat di lantai tiga. Miichan mengambil tempat duduk di antara guru pembimbing dan teman dekat Miichan, kemudian terperangah sendiri melihat seisi ruangan.

Padahal Miichan belum puas mengamati seisi ruangan, tapi dua orang dari pihak Sumut Pos keburu masuk. Yang satu adalah seorang redaktur sekaligus penanggung jawab halaman, sedangkan yang satu lagi adalah fotografer. Meski demikian, keduanya sama-sama jurnalis.

taken by Alya Faradilla 

Kami menghabiskan waktu di sana nggak lama-lama. Mentok-mentok juga satu jam. Namun, bagi Miichan sendiri, banyak sekali yang bisa dipelajari ketika berkunjung di sana.

Yang paling ditekankan, bahwa Indonesia sangat rendah dalam minat baca, juga dalam pendidikan. Usia saja yang sudah 71, tapi entah berapa puluh tahun lagi harus menunggu Indonesia menjadi negara maju. Bergantung pada generasi muda saat ini--termasuk Miichan.

:')

Berbicara soal pendidikan, berkaitan juga dengan kepintaran atau anything else that is similiar to. Kakak yang bernama Juli tersebut berkata bahwa pintar adalah syarat mutlak untuk jurnalis , titik.

Dan itu masuk akal juga menurut Miichan.

Harus cepat tanggap, mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat, siap meninggalkan waktu istirahat untuk menyelesaikan sebuah berita agar tidak ketinggalan.. Intinya, pintar dalam bertindak. Artinya, wajib pintar dalam berpikir juga. Itulah mereka yang berprofesi sebagai jurnalis.

Perlu ditandai. Profesi, Bukan pekerjaan. Kak Juli sempat menjelaskan di antara keduanya.

"Kalau pekerjaan, kamu akan diminta untuk bekerja pada waktu yang ditentukan. Tapi kalau sudah menyandang sebuah profesi, kamu harus bersedia 24 jam untuk turun ke lapangan demi melaksanakan tugas,"

Reporter, misalnya. Dokter, tak jauh beda. Guru, Miichan rasa bisa juga kalau dia sungguh-sungguh mengabdi demi pendidikan bangsa. Contohnya Miichan tujuh tahun dari sekarang.


.

.

Dan menjelang akhir pertemuan, kami dikenalkan dengan yang namanya Zetizen, sebuah rubrik di Sumut Pos sebagai wadah para remaja. Remaja yang dimaksudkan di sini adalah manusia-manusia yang berusia 13 sampai 20 tahun.

Sumut Pos sangat peduli terhadap perkembangan remaja. Kreativitas pemuda-pemudi penerus langkah Indonesia ini, menurut Sumut Pos, tidak boleh dipendam-pendam. Sayangnya, sulit sekali menemukan sarana yang layak bagi remaja untuk menyalurkan kemampuan-kemampuannya.

Oleh sebab itulah, Zetizen dibentuk.

Zetizen juga memiliki situs di internet. Jadi, bagi kamu yang demen banget berduaan sama gadget dan umurnya berada dalam rentang tersebut, bisa kunjungi zetizen.com. Miichan rasa, nggak zaman lagi menjelaskan "Zetizen adalah ... " "Di dalamnya terdapat ... "

No.

Cukup buka dan rasakan sendiri sensasinya.

(?)

Tapi, to be honest, Miichan jatuh hati dengan situs itu. Daripada stalking media sosial gebetan yang nggak kunjung kamu dapatkan, lebih baik kamu nambah-nambah wawasan di Zetizen.

*ngomong sama diri sendiri di cermin*

taken by kakak fotografer

Warga EJS pun mengambil foto keluarga--meskipun hanya sebagian kecil--pada akhir acara, lalu pamit dan kembali ke sekolah.

Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

Begitulah pengalaman pertama Miichan bersama teman-teman baru di Ekstrakulikuler Jurnalistik dan Sastra SMANSA. Secara keseluruhan menyenangkan. Sudah Miichan pastikan. Karena sejak awal pun, Miichan percaya bahwa akan berakhir begitu.

Sekian dari Miichan di hari Minggu yang dirindukan ini ^ ^)/

Kalau kamu ingin berbagi cerita, Miichan sudah bersiap di kolom komentar, kok ^ ^)b

Jaa mata ne ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...