Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Imagine if this isn't my own body, and it truly isn't

Ever thought about what it would be like to live in someone else’s body for a year? I stumbled across a social media post yesterday that posed this exact question: "Imagine you swapped bodies with your loved one and had to give it back in a year. What would you do?" Instantly, I knew I'd keep it as healthy as possible. Seeing my beloved one sick is the last thing I'd ever want. I'd feed it well, exercise regularly, and care for it like my grandma nurtures her garden.

As I kept scrolling (procrastination at its finest, I should get back to work),  I found another post that struck a chord. Someone shared, "My therapist always refers to me in the third person, and it helps SO MUCH to forgive, love, and care for myself like I do for my loved ones." Wow, that hit home. Not just in terms of physical health, but mentally too.

I tend to blame myself for every little failure. If I could see myself as another person, I wouldn't be so harsh. I mean, I always try to defend my team members even when I'm frustrated with them. Why can't I extend that same kindness to myself?

Then it struck me. My faith teaches that I don't truly own my body; it’s a gift from God. I have a responsibility to take care of it, and one day I'll be held accountable. On Judgment Day, I'll have to answer for how I treated this gift. Am I giving each part of my body the care it deserves? Am I using it for the right purposes?

It took me 22 years to come to this realization. Of course, I can't expect to wake up tomorrow completely transformed and mindful. Habits formed over two decades aren't broken overnight. Breaking them indeed is no small feat. But at least now, I've seen the light. It's time to take baby steps towards change, isn't it?

Komentar

  1. Nonton Film The Crimson Love Letter Di Mana Ya Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya gak ketemu film official-nya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...