Langsung ke konten utama

tidak mau menjadi kuat

Imagine if this isn't my own body, and it truly isn't

Ever thought about what it would be like to live in someone else’s body for a year? I stumbled across a social media post yesterday that posed this exact question: "Imagine you swapped bodies with your loved one and had to give it back in a year. What would you do?" Instantly, I knew I'd keep it as healthy as possible. Seeing my beloved one sick is the last thing I'd ever want. I'd feed it well, exercise regularly, and care for it like my grandma nurtures her garden.

As I kept scrolling (procrastination at its finest, I should get back to work),  I found another post that struck a chord. Someone shared, "My therapist always refers to me in the third person, and it helps SO MUCH to forgive, love, and care for myself like I do for my loved ones." Wow, that hit home. Not just in terms of physical health, but mentally too.

I tend to blame myself for every little failure. If I could see myself as another person, I wouldn't be so harsh. I mean, I always try to defend my team members even when I'm frustrated with them. Why can't I extend that same kindness to myself?

Then it struck me. My faith teaches that I don't truly own my body; it’s a gift from God. I have a responsibility to take care of it, and one day I'll be held accountable. On Judgment Day, I'll have to answer for how I treated this gift. Am I giving each part of my body the care it deserves? Am I using it for the right purposes?

It took me 22 years to come to this realization. Of course, I can't expect to wake up tomorrow completely transformed and mindful. Habits formed over two decades aren't broken overnight. Breaking them indeed is no small feat. But at least now, I've seen the light. It's time to take baby steps towards change, isn't it?

Komentar

  1. Nonton Film The Crimson Love Letter Di Mana Ya Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya gak ketemu film official-nya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

Download Digimon Adventure 01 (1 - 54 [END]) Subtitle Indonesia

Minna, ohayou! Kesempatan kali ini, Miichan ingin membagikan link   download  untuk anime   Digimon , tepatnya yang season  1, yaitu Digimon Adventure 01. Apa kalian pernah dengar? Mungkin untuk 'Digimon' keseluruhan ( yang mencakup 7 season ) kalian pernah mendengar atau malah menontonnya. Terlebih lagi Digimon Xros War ( Miichan kurang tahu itu season ke berapa ) saat ini tengah ditayangkan di Indosiar. (Baca juga yuk >>  Apa Itu Digimon? ) Tetapi, Digimon Adventure 01 adalah season paling pertama yang mungkin tidak begitu terkenal lagi sekarang. Meskipun begitu, setelah Miichan survei, banyak penyuka Digimon yang mengaku season inilah yang paling seru, bersama dengan Digimon Xros War. Dahulu, season ini juga ditayangkan di Indosiar. Sekitar 6 - 7 tahun yang lalu kalau tidak salah, saat Miichan masih kelas 2 - 3 SD '-' Menurut Miichan, rating  Digimon Adventure 01 ini K+. Genre nya adalah adventure , friendship , dan fantasy . Di Digimon Adve...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...