Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Saat Aku Memimpin

Aku masih mengenakan seragam putih abu saat itu, saat dibawa ke sebuah klinik tes kepribadian. Yang masih kuingat — selain kata-kata dia punya potensi bunuh diri — adalah pernyataan, “Dia tangan kanan yang baik, tapi bukan seorang pemimpin.”

Pikirku terbang mengulas kembali yang telah lalu. Sekretaris, bendahara — aku memang tidak pernah mengajukan diri sebagai ketua. Kecuali, satu kali.. tidak mengajukan diri juga, sih. Tiba-tiba saja aku ditunjuk — penuh dengan keterpaksaan — menjadi ketua untuk sebuah gerakan di sekolah. Akhirnya gerakan itu berantakan, tidak selesai, dan sejak itu aku kehilangan sedikit-banyak kepercayaan diri untuk memberi komando.

Pura-puranya melipur lara, aku mencoba menutup mata dan tenggelam, merasai nyaman terbenam dalam kalimat, “Ambisi orang-orang seperti ini bukan menjadi orang nomor satu. Sepanjang merasa berguna dan diberdayagunakan, dia bahagia. Bahagia itu yang menjadi targetnya.”

Seiring ucapan itu berngiang di telingaku, dua tiga kepanitiaan di permulaan kuliah berlalu. Aku menghela napas lega menjadi anggota biasa. Toh “aku” tidak berambisi menjadi nomor satu, kan?

Akan tetapi, tatkala aku mengikuti seminar dan tes psikologi lainnya — tepatnya baru-baru ini — aku menyadari bahwa motivasiku untuk bergerak tidak selalu lahir dari dalam diri. Aku akan takut, tapi tekanan dari luar sangat ampuh membuatku beranjak dan mulai menjadi berguna.

Aku ingin berguna, sayangnya menjadi anggota biasa seringkali melenakan karena alpanya tekanan. Jika begitu, aku harus mencari posisi yang dibebani tekanan alias tanggung jawab lebih.

“Komandan bertanggung jawab atas pasukannya juga.”

Aku bergidik, tapi aku ingin berguna. Keras kepala sekali, sih, tapi aku ingin berguna; katanya itu yang membuatku bahagia, kan?

Pada suatu pagi yang malas, aku terbangun menyadari bahwa sebenarnya aku gusar. Aku merindukan adrenalinku dipacu karena tekanan ini itu. Aku lebih “bahagia” tidur tiga jam setelah bekerja rodi dibanding tidur sepuluh jam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Keinginan semacam apa ini, harusnya bersyukur saja bisa beristirahat dengan tenang, batinku bertambah gusar, tapi aku tahu dia tidak berbohong.

Aku meletakkan jempol di pergelangan tangan, merasakan denyut nadi yang mengalirkan darah. Lantas tiga bulan terakhir pada 2019, aku menceburkan diri untuk menjawab tanya, “Memangnya setidak bisa itu; semustahil itu? Lantas kenapa kalau aku tidak memiliki darah seorang pemimpin?”

Aku bertanya di depan kaca, memasang ekspresi serius, lalu terbahak sendiri seolah-olah aku akan memimpin one world government, tapi hei — kau serius, kan? Sebenarnya kau menyimpan luka, kan? Meskipun tidak tahu entah luka karena kegagalan hari itu atau luka karena dikatakan Zahra tidak dilahirkan sebagai seorang pemimpin, edisi menantang diri ini adalah ajang pembuktian, ajang penyembuhan— 

 — atau jangan-jangan ajang penyayatan luka lebih dalam?

Memimpin adalah menderita, katanya. Namun, derita bisa diolah menjadi cerita, kan? Seperti nasi yang sudah menjadi bubur, jika memang begitu, jadikan bubur ayam saja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...